Site icon aviNews, la revista global de avicultura

Avian influenza H5 muncul di Australia, Profesor di IPB University: Indonesia perlu waspada

Escrito por: aviNews Indonesia
PDF

Kasus pertama varian avian influenza H5 yang mematikan pada burung liar ditemukan di Esperance, Australia Barat.

Kemunculan virus flu burung ini menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu industri unggas di Australia sekaligus menjadi pengingat bagi negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, untuk memperkuat pengawasan dan biosekuriti.

Prof Ronny Rachman Noor, pakar genetika ekologi di IPB University, menjelaskan bahwa kekhawatiran Australia cukup beralasan karena industri unggas memiliki peran besar terhadap perekonomian dan kebutuhan pangan masyarakat.

“Australia memproduksi 1,3 juta ton daging ayam dan 6 miliar telur setiap tahun, yang menjadi sumber utama pendapatan senilai AUD 7 miliar dan melibatkan ribuan peternak. Daging ayam adalah sumber protein hewani utama di Australia, dengan konsumsi 45 kg per orang per tahun,” kata Prof Ronny.

Sebelum temuan avian influenza H5 pada burung liar tahun 2026, Australia pernah menghadapi wabah avian influenza varian lain seperti H7 pada peternakan unggas. Pemerintah Australia mengambil tindakan cepat melalui pemusnahan jutaan ayam untuk mencegah penyebaran, meskipun langkah tersebut berdampak terhadap kerugian ekonomi dan gangguan pasokan telur.

“Flu burung di Australia memengaruhi ekspor, meskipun negara ini bukan pengekspor unggas terbesar. Status bebas penyakit penting untuk menjaga kepercayaan internasional. Wabah menyebabkan mitra membatasi ekspor sehingga pemerintah dan industri harus berinvestasi dalam surveilans, karantina, dan latihan simulasi wabah,” jelas Prof Ronny.

Ia mengatakan bahwa avian influenza H5 menjadi perhatian karena memiliki tingkat kematian tinggi pada unggas. Virus ini dapat menyebabkan kematian 90-100% pada unggas dalam beberapa hari, sekaligus berdampak pada produksi telur, ayam pedaging, dan meningkatnya biaya penanganan.

“Vaksin untuk H5 memang tersedia, tetapi penggunaannya terbatas karena sulit membedakan unggas terinfeksi dari unggas yang divaksin. Biaya vaksinasi massal juga tinggi dan ada risiko virus bermutasi serta lolos dari vaksinasi. Karena itu, strategi utama tetap melalui biosekuriti yang ketat dan pemusnahan unggas terinfeksi,” ujar Prof Ronny.

Indonesia perlu waspada

Menurut Prof Ronny, Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan karena berada di jalur migrasi burung dari Australia dan pernah mengalami wabah H5N1 yang menimbulkan kerugian pada sektor unggas.

“Kehati-hatian ini wajar, mengingat Indonesia berada di jalur migrasi burung dari Australia dan pernah mengalami wabah H5N1 yang menimbulkan kerugian di sektor unggas. Ini perhatian penting,” ujar Prof Ronny.

Menurutnya, langkah pencegahan perlu dilakukan melalui penguatan pengawasan burung liar, peningkatan biosekuriti peternakan, edukasi peternak mengenai gejala avian influeza dan pelaporan cepat, serta koordinasi regional agar penyebaran virus lintas negara dapat dicegah.

“Indonesia harus memperkuat pengawasan terhadap burung liar di jalur migrasi serta meningkatkan biosekuriti di peternakan unggas, termasuk menjaga sanitasi, mengendalikan lalu lintas unggas, dan menyiapkan dana darurat untuk kompensasi serta pemusnahan unggas jika terjadi wabah,” kata Prof Ronny.

Papua Nugini tangguhkan impor produk unggas Australia

Papua Nugini telah menangguhkan impor unggas dan telur dari Australia setelah dua kasus avian influenza H5N1 yang mematikan terdeteksi di Australia Barat.

Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia (DAFF) menyatakan dalam sebuah pengumuman pada 23 Juni 2026 bahwa Otoritas Inspeksi Pertanian dan Karantina Nasional Papua Nugini memberlakukan penangguhan impor terhadap semua daging unggas dan produk unggas, termasuk telur, yang berlaku mulai 22 Juni 2026.

DAFF menyatakan Australia tetap bebas dari avian influenza H5N1 yang sangat patogenik pada unggas sesuai dengan standar internasional Organisasi Kesehatan Hewan Dunia.

Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia Julie Collins mengatakan kepada media lokal pada 24 Juni 2026 bahwa pemerintah federal sedang berkoordinasi langsung dengan Papua Nugini untuk mencabut pembatasan perdagangan tersebut.

“Kami terus memantau secara ketat temuan avian influenza H5 pada satwa liar dan secara aktif berupaya memberikan jaminan yang diperlukan kepada mitra dagang secara lebih luas,” katanya.

Sementara itu, produsen unggas terbesar di Australia, Ingham’s pada 22 Juni 2026 mengumumkan akan menerapkan penutupan total terhadap seluruh operasinya di Australia Barat guna memitigasi potensi risiko yang ditimbulkan oleh avian influenza.

Nilai ekspor daging ayam Australia mencapai rekor tertinggi sebesar 133 juta dolar Australia pada tahun 2023-2024, termasuk 60 juta dolar Australia untuk ekspor ke Papua Nugini.

PDF
Exit mobile version