Persoalan di industri perunggasan Indonesia hingga anjloknya harga telur ayam ras dan harga ayam pedaging hidup bukan terletak pada teknologi produksi, melainkan pada struktur bisnis yang semakin terkonsentrasi dan rentan memunculkan praktik monopoli, menurut Yuli Retnani, Guru Besar IPB University.
Selama ini, berdasarkan pengamatan Yuli, industri perunggasan nasional telah berkembang sangat modern dan efisien. Namun, di balik keberhasilan tersebut, terdapat persoalan serius yang membuat peternak rakyat terus tertekan.
“Masalah utama industri perunggasan Indonesia bukan lagi sekadar teknologi produksi, melainkan struktur industrinya yang semakin terkonsentrasi sehingga mudah terjadi praktik monopoli. Akibatnya, hal ini menciptakan ketidakadilan ekonomi yang serius,” terang Yuli kepada CNBC Indonesia.
Perunggasan adalah sektor strategis
Industri perunggasan merupakan sektor strategis bagi perekonomian nasional karena menjadi penyedia protein hewani murah bagi masyarakat. Produksi ayam pedaging bahkan bisa dipanen hanya dalam waktu sekitar 30-40 hari, papar Yuli.
“Industri perunggasan sangat strategis mempengaruhi perekonomian Indonesia. Penyediaan protein dapat diproduksi dalam waktu singkat, dipenuhi dari penyediaan protein hewani dari daging ayam pedaging dan telur ayam ras,” ujarnya.
Yuli menyebut industri perunggasan juga menjadi salah satu contoh keberhasilan modernisasi pertanian dan teknologi pangan di Indonesia. Efisiensi produksi ditopang teknologi pembibitan, pakan, kesehatan ternak hingga manajemen kandang yang modern.
“Jadi, industri perunggasan adalah kisah sukses modernisasi pertanian dan teknologi pangan,” tambahnya.
Selain itu, industri perunggasan juga menjadi penyedia sumber protein hewani yang paling terjangkau bagi masyarakat sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Dengan sistem produksi seperti sekarang ini maka kebutuhan protein rakyat tercukupi dan terjangkau, karena harganya relatif murah,” terang Yuli.
Namun, peternak rakyat mengalami kerugian berkepanjangan
Di sisi lain, Yuli menyoroti banyak peternak rakyat justru mengalami kerugian yang berkepanjangan. Bahkan, tidak sedikit yang terlilit hutang hingga kehilangan aset usaha akibat bisnis yang merugi.
“Banyak keluhan di kalangan peternak akibat sering mengalami kerugian, gulung tikar, terlibat hutang bahkan penyitaan aset properti kandang ataupun rumah. Ini semua terjadi akibat kerugian usahanya,” kata dia.
Kondisi ini, menurut Yuli, menjadi indikasi struktur industri unggas sedang tidak sehat – telah terjadi konsentrasi horizontal dan vertikal yang menguntungkan perusahaan besar, sementara peternak kecil semakin tertekan.
“Industri perunggasan mengalami konsentrasi horizontal dan vertikal sehingga menguntungkan konglomerasi dan merugikan peternak. Nilai tambah dinikmati oleh perusahaan besar, sementara usaha kecil tertindas,” ujarnya.
Perusahaan-perusahaan besar saat ini menguasai rantai bisnis unggas dari hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan, pakan ternak, obat dan vaksin, fasilitas pemotongan unggas, distribusi, fasilitas pendingin hingga perdagangan ritel.
“Akibatnya, perusahaan-perusahaan besar mengontrol harga input, mengontrol pasokan DOC, mengontrol distribusi, bahkan dengan mudah dapat mempengaruhi harga pasar ayam pedaging dan telur ayam ras,” jelas Yuli.
Kondisi ini, lanjutnya, membuat peternak rakyat hanya menjadi penerima harga yang tidak memiliki kekuatan untuk memengaruhi harga pasar dan harus menerima harga yang berlaku, membeli input mahal tetapi menjual hasil ternak dengan harga murah.
“Pada satu sisi, konsumen menikmati harga protein murah. Tetapi pada sisi lain peternak kecil sering bangkrut, margin keuntungan sangat tipis, dan aset usaha sering disita bank,” ujar dia.
Pemerintah dan KPPU diminta turun tangan
Karena itu, Yuli meminta pemerintah dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) turun tangan melakukan reformasi struktur industri perunggasan, agar persaingan usaha lebih sehat.
“Pemerintah atau negara dalam hal ini harus hadir, karena industrinya tidak sehat. Pemerintah dan KPPU mutlak harus melakukan reformasi struktur industri menjadi bersaing sehat secara bertahap,” katanya.

