Pemerintah Republik Indonesia mengalokasikan kuota impor grand parent stock (GPS) broiler (ayam pedaging) sebanyak 800.000 ekor di tahun ini.
- Angka ini melonjak dari kuota impor di 2025 yang mencapai 578.000 ekor.
- Jumlah penerima kuota juga naik dari 24 perusahaan pembibitan menjadi 27 perusahaan pembibitan.
Kuota impor GPS broiler merupakan bagian penting dari kelangsungan industri broiler tanah air. Indonesia selama ini mengimpor GPS broiler dari Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa.
Menurut perhitungan para pelaku industri, 1 ekor GPS broiler mampu menghasilkan 50-60 parent stock (PS). Lalu, 1 ekor PS broiler bisa menghasilkan 150-160 ekor DOC (anak ayam umur sehari) broiler komersial (final stock).
Distribusi jatah kuota impor
Menurut temuan Tempo, lonjakan kuota terbesar dialami perusahaan plat merah Berdikari, dari 18.000 ekor di 2025 menjadi 95.000 ekor di 2026.
Kenaikan ini sejalan dengan rencana pemerintah membangun peternakan ayam terintegrasi—yang mencakup kandang GPS broiler—untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di sisi lain, jatah impor GPS broiler untuk Charoen Pokphand Indonesia dan Japfa Comfeed Indonesia mengalami penurun tipis dan kenaikan tipis.
- Kuota impor GPS broiler untuk Charoen Pokphand Indonesia turun tipis dari 221.000 ekor di 2025 menjadi 220.000 ekor di 2026.
- Kuota impor GPS broiler Japfa Comfeed Indonesia hanya naik tipis dari 163.000 ekor di 2025 menjadi 165.000 ekor di 2026.
Menurut Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak di Kementerian Pertanian, peningkatan kuota impor GPS broiler ditujukan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan seiring meningkatnya jumlah dapur program MBG, terutama ketika struktur permintaan telah mapan di dua tahun ke depan.
Meski jatah impor telah ditetapkan, pemerintah tetap memberikan ruang bagi perusahaan pengimpor untuk mengukur realisasi berdasarkan kapasitas dan kebutuhan pasar.
Perlu perencanaan jangka menengah yang presisi
Achmad Dawami, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), menilai rencana impor GPS broiler memerlukan perencanaan jangka menengah yang presisi.
Kata dia, dampak produksi dari GPS yang diimpor pada 2026 baru akan terealisasi penuh sekitar 18 bulan kemudian pada 2028. “Dengan kata lain, keputusan impor hari ini akan menentukan struktur pasokan dua tahun mendatang,” terangnya kepada Tempo.
Berdasarkan paparan Kementerian Koordinator Pangan, Dawami menyebutkan estimasi kebutuhan daging ayam untuk program MBG di 2028 berada di kisaran 366.270 ton, meningkat dari 232.850 ton di 2026. Adapun Kementerian Pertanian memproyeksikan potensi tambahan kebutuhan ayam mencapai 1,13 juta ton per tahun.
Menurut Dawami, pemerintah perlu mengharmonisasi data dan metodologi perhitungan agar ekspansi kapasitas produksi berjalan seimbang dengan pertumbuhan permintaan aktual.
Ia menerangkan bahwa industri perunggasan memiliki karakter siklus biologis dan siklus harga yang sangat sensitif terhadap perubahan pasokan. Jika ekspansi pasokan tumbuh lebih cepat dari realisasi permintaan, harga di tingkat peternak akan tertekan dan mengganggu keberlanjutan usaha rakyat.
Sebaliknya, jika perencanaan terukur dan berbasis data terintegrasi, peningkatan produksi dapat memperkuat stabilitas pasokan nasional tanpa menciptakan volatilitas berlebihan.
Dawami juga mengatakn bahwa penambahan kuota impor GPS broiler memerlukan:
- dukungan kapasitas kandang PS dan broiler komersial,
- kesiapan hatchery,
- kecukupan suplai pakan,
- sistem distribusi yang efisien,
- serta standar biosekuriti yang ketat.
Ia menilai pendekatan yang bertahap dan adaptif akan memberikan ruang penyesuaian yang lebih sehat bagi industri.
“Ekspansi kapasitas tidak perlu bersifat melonjak, tapi mengikuti kurva pertumbuhan kebutuhan program MBG yang meningkat secara progresif hingga 2029,” ia menyarankan.

