Prospek saham Charoen Pokphand (CP) Indonesia di 2026 dinilai masih cukup menjanjikan, meskipun tetap dibayangi sejumlah tantangan eksternal, menurut Muhammad Wafi, Head of Research di KISI Sekuritas.
Kata Wafi, kinerja CP Indonesia di tahun ini berpotensi ditopang oleh permintaan musiman dan pertumbuhan berkelanjutan pada segmen hilir. Namun, ia mengingatkan adanya beberapa faktor yang bisa menjadi pemberat, terutama dari sisi makro ekonomi.
“Pemberat kinerja ialah depresiasi rupiah yang mengerek beban impor bahan baku pakan, terutama bungkil kedelai, serta tekanan inflasi terhadap daya beli masyarakat,” tambahnya.
Sementara, Abida Massi Armand, Analis Fundamental di BRI Danareksa Sekuritas, tetap melihat prospek CP Indonesia secara keseluruhan masih positif. Ia memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan masih dapat terjaga, didukung oleh sejumlah katalis struktural.
Menurut Abida, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan memperbesar permintaan protein hewani secara bertahap dan berkelanjutan. Selain itu, kontrol pasokan grand parent stock (GPS) juga dinilai mampu menjaga harga broiler tetap berada pada level yang suportif.
Meski demikian, Abida menggarisbawahi sejumlah risiko yang patut dicermati, mulai dari volatilitas harga jagung dan bungkil kedelai akibat tensi geopolitik, pelemahan rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, hingga pemulihan daya beli masyarakat segmen bawah yang belum sepenuhnya merata.
Rekomendasi saham CP Indonesia
Dari sisi pergerakan saham, saham CP Indonesia berada di kisaran Rp 4.400 per saham, atau terkoreksi sekitar 1% secara year to date (YTD). Kondisi ini dinilai membuka ruang akumulasi bagi investor, seiring fundamental perseroan yang tetap solid.
Abida merekomendasikan buy untuk saham CP Indonesia dengan target harga Rp 5.900 per saham. Ia menempatkan CP Indonesia sebagai top pick di sektor perunggasan, didukung oleh dominasi pasar pakan ternak yang diperkirakan melebihi 35%, katalis struktural dari program MBG, serta valuasi yang masih menarik.
Sementara itu, Wafi menilai pergerakan saham CP Indonesia saat ini masih cenderung konsolidatif. Meski demikian, ia tetap melihat saham ini menarik untuk dicermati dengan target harga Rp 5.500 per saham.
Performa keuangan di 2025
CP Indonesia mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025. Emiten unggas ini berhasil membukukan pertumbuhan penjualan dan laba bersih.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, penjualan neto perusahaan naik 4,78% secara tahunan menjadi Rp 70,70 triliun, dari Rp 67,47 triliun pada 2024.
Sejalan dengan kenaikan pendapatan, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih CP Indonesia juga melesat. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp 5,64 triliun pada 2025, tumbuh sekitar 52% secara tahunan dibandingkan Rp 3,71 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari sisi profitabilitas, laba bruto CP Indonesia meningkat menjadi Rp 12,42 triliun pada 2025, dari Rp 10,42 triliun pada 2024. Kenaikan ini turut mencerminkan perbaikan marjin laba bruto perseroan. Tak hanya itu, laba usaha CPIN juga naik menjadi Rp 8,13 triliun, dari Rp 5,99 triliun pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp 58,28 triliun pada 2025, meningkat dibandingkan Rp 57,06 triliun pada 2024. Meski demikian, pertumbuhan penjualan yang tetap terjaga mampu menopang peningkatan laba perusahaan.
Adapun laba sebelum pajak penghasilan CP Indonesia naik signifikan menjadi Rp 7,71 triliun pada 2025, dari Rp 5,26 triliun pada 2024.
Kinerja positif tersebut juga tercermin dari laba per saham dasar yang meningkat menjadi Rp 344 per saham, dari sebelumnya Rp 226 per saham.
Margin jadi penopang utama
Abida menilai lonjakan laba bersih CP Indonesia pada 2025 lebih banyak ditopang oleh ekspansi margin ketimbang pertumbuhan volume penjualan.
Menurutnya, segmen pakan ternak menjadi penopang utama kinerja perusahaan, dengan pertumbuhan sekitar 27,6% secara tahunan menjadi Rp 21 triliun. Kinerja ini didukung oleh penurunan harga bahan baku seperti jagung dan bungkil kedelai sebelum meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah.
“Efisiensi biaya keuangan dan penurunan beban pajak juga turut mengangkat bottom line, sehingga pertumbuhan laba bersih jauh melampaui pertumbuhan top line yang sebesar 4,78% secara tahunan,” ujar Abida.
Ia menambahkan, program MBG dari pemerintah juga mulai memberikan kontribusi terhadap peningkatan permintaan broiler, khususnya pada semester II-2025.
Di samping itu, Wafi melihat perbaikan kinerja CP Indonesia turut ditopang oleh efisiensi biaya bahan baku pakan, stabilnya harga broiler dan anak ayam (day old chick/DOC) berkat program culling pemerintah, serta margin yang tetap solid pada segmen makanan olahan.

