


Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap produksi telur dan daging ayam di 2025 akan naik dibandingkan 2024. Tidak hanya naik, angka produksi tersebut juga diklaim di atas kebutuhan konsumsi nasional.
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan dari Bapanas, mengatakan swasembada perunggasan yang produksinya relatif melebihi kebutuhan, baik telur maupun daging ayam, harus diapresiasi dan merupakan bentuk kerja keras Kementerian Pertanian.
Data produksi dan konsumsi telur ayam
Data produksi dan konsumsi daging ayam ras
Upaya Bapanas
Ketut mengatakan Bapanas akan menyiapkan ekosistem di pasca panen dan hilir. Ini perlu dilakukan untuk menjaga keseimbangan harga dan stok di peternak dan konsumen.
Bapanas juga mendorong agar kelebihan produksi ini dapat dimanfaatkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini diyakini akan membantu menjaga harga di level peternak.
| “Semoga kerja sama pasokan telur dan daging ayam dari PPN (Pinsar Petelur Nasional) dan Pinsar (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia) ke SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Tangerang berjalan lancar. Ini supaya manfaat MBG semakin terasa bagi seluruh peternak kita,” harap Ketut. |
Kelebihan produksi dan harga
Berlebihnya produksi telur dan daging ayam telah membuat harga kedua komoditas itu merosot di tingkat peternak, ungkap Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
“Harga ayam hidup di tingkat peternak sempat anjlok. Begitu juga harga telur. Kita dorong bersama untuk mengangkat harga jual ayam hidup dan telur di tingkat peternak,” katanya.
“Sekarang harga sudah mulai bagus, walaupun masih belum seperti yang kita harapkan.”
Menurut data Panel Harga Pangan Nasional dari Bapanas: