Kementerian Pertanian mengakui program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mempengaruhi harga ayam pedaging hidup dan telur ayam di dalam negeri, ungkap Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian.
“Penurunan harga ayam pedaging hidup dan telur ayam belakangan ini dipengaruhi berkurangnya permintaan seiring tidak berjalannya program MBG selama masa libur sekolah,” kata dia.
Menurut Sudaryono, MBG selama ini menjadi sumber permintaan baru yang cukup besar terhadap komoditas daging ayam dan telur ayam, selain beras dan sayuran.
Ia menjelaskan, tingginya permintaan dari MBG sebelumnya telah mendorong peningkatan usaha peternakan. Kandang peternak kini terisi penuh, bahkan muncul peternak-peternak baru untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.
Namun, sambungnya, ketika sekolah memasuki masa libur sekitar tiga pekan dan kegiatan MBG ikut berhenti sementara, pasokan ayam pedaging hidup dan telur ayam pun menjadi melimpah di pasaran sehingga harga di tingkat peternak mengalami penurunan.
Evaluasi pola produksi
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Kementerian Pertanian akan mengevaluasi pola produksi peternak agar lebih selaras dengan kalender akademik.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi gejolak pasokan dan menjaga stabilitas harga ayam pedaging hidup maupun telur ayam ketika permintaan dari MBG berubah secara musiman.
Kata Sudaryono, pemerintah masih mempelajari pola baru tersebut karena merupakan kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Upaya menjaga keseimbangan harga
Sebagai upaya menjaga keseimbangan harga, pemerintah pun menetapkan harga ayam pedaging hidup minimal Rp 19.500 per kg dan harga telur ayam Rp 24.000 per kg di tingkat peternak mulai 15 Juli 2026.
Penetapan ini merupakan hasil musyawarah Kementerian Pertanian dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bersama asosiasi, pelaku usaha, dan peternak unggas.
Pemerintah, kata Sudaryono, akan memastikan kesepakatan harga tersebut dipatuhi seluruh pelaku usaha agar kesejahteraan peternak meningkat, sekaligus menjaga harga di tingkat konsumen tetap sesuai harga eceran tertinggi (HET).

