Site icon aviNews, la revista global de avicultura

Magni-Phi: Kesehatan usus optimal untuk performa maksimal

Escrito por: Setia Hadi
PDF

Konten ini tersedia dalam: ไทย (Thai) Tiếng Việt (Vietnamese)

Mengikuti tren permintaan pasar untuk produk daging ayam yang lebih aman berkaitan dengan ancaman resistensi anti-mikroba pada manusia, maka penggunaan antibiotik pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promoter atau disingkat AGP) pada industri perunggasan dilarang penggunaannya.

Pemerintah telah mengatur hal tersebut melalui Keputusan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 09111/KPTS/PK.350/F/09/2018 tentang ‘Petunjuk Teknis Penggunaan Obat Hewan Dalam Pakan Untuk Tujuan Terapi’.

Dalam keputusan tersebut, antibiotik hanya dapat digunakan dalam pakan hanya untuk tujuan terapi. Tentu hal ini menjadi tantangan bagi pelaku perunggasan untuk tetap bisa menjaga performa produksi tanpa penggunaan AGP.

Kesehatan usus ayam

Pada ayam pedaging (broiler), kesehatan usus menjadi satu hal yang amat penting, karena tantangan dari manajemen pemeliharaan, kondisi lingkungan, tantangan penyakit infeksius (virus, bakteri, dan parasit), formulasi dan kualitas pakan, serta stres panas dapat menjadi pemicu adanya gangguan pada kesehatan usus.

Sebagai organ dengan area permukaan terluas yang secara terus-menerus terpapar oleh berbagai mikroba patogen dan toksin, mukosa pada sepanjang permukaan usus juga menjadi pertahanan pertama ayam (sistem imunitas). Selain itu, ia juga berfungsi sebagai organ untuk penyerapan nutrisi serta sekresi sisa proses pencernaan.

Dengan demikian, kesehatan usus selalu menjadi fokus utama pada industri perunggasan, sehingga efisiensi produksi dapat tercapai. Salah satu ancaman serius pada saluran pencernaan adalah dysbacteriosis.

Apa itu dysbacteriosis?

Dysbacteriosis didefinisikan sebagai adanya mikrobiota abnormal secara kualitatif dan/atau kuantitatif di bagian proksimal usus kecil.

Mikrobiota abnormal ini menghasilkan serangkaian reaksi di saluran pencernaan, termasuk berkurangnya daya cerna nutrisi dan gangguan fungsi barrier usus, meningkatnya leaky gut syndrome akibat kerusakan tight junction, dan adanya respons radang (Panneman, 2000; Van der Klis, 2000 dan Lensing, 2007).

Dysbacteriosis bukanlah penyakit spesifik, melainkan sindrom sekunder. Di sepanjang saluran pencernaan, terdapat beragam komunitas mikroba yang terdiri dari bakteri, protozoa ciliate, jamur anaerobik, dan bakteriofag, yang biasa disebut sebagai mikrobiota usus.

Dysbacteriosis adalah ketidakseimbangan mikrobiota usus akibat gangguan usus. Dampak dysbacteriosis dapat dipisahkan menjadi masalah ekonomi dan kesejahteraan hewan (Bailey, 2010).

Dysbacteriosis dapat menyebabkan masalah penggumpalan litter yang sangat basah. Kontak yang cukup lama antara ayam dengan litter basah dapat menyebabkan ulserasi pada ceker dan sendi kaki (pododermatitis dan hock burn), menyebabkan masalah kesejahteraan hewan (animal welfare) yang serius dan penurunan kualitas karkas.

Selain masalah-masalah ini, dampak ekonomi yang besar berasal dari penurunan tingkat pertumbuhan, meningkatnya FCR, dan peningkatan biaya pengobatan (Kizerwetter-Świda dan Binek, 2008).

Dysbacteriosis dapat disebabkan oleh banyak faktor, baik non-infeksius seperti formulasi dan kualitas pakan, brooding yang tidak tepat, rendahnya biosekuriti, dan manajemen (kepadatan terlalu tinggi dan heat stress), ataupun faktor infeksius seperti mikotoksin, koksidiosis, serta infeksi Clostridium perfringens.

Apa efek buruk dysbacteriosis?

Dysbacteriosis dapat berdampak besar pada pemeliharaan ayam.

Dysbacteriosis mengubah keseimbangan mikroba pada usus dan mendukung pertumbuhan bakteri patogen. Bakteri patogen menghasilkan toksin yang meningkatkan motilitas usus, meningkatkan produksi mukus. Hal ini juga mengakibatkan perubahan keasaman lambung, penurunan produksi peptida bakteriostatik di pankreas, dan penurunan sekresi imunoglobulin (IgA).

Toksin yang dilepaskan oleh entero-patogen dapat merusak vili usus, mengakibatkan ulserasi fokal pada mukosa, nekrosis jaringan, dan perubahan jumlah mikroorganisme pada usus. Kondisi yang paling merugikan dari sisi produksi ayam adalah adanya inflamasi kronis sebagai respons terhadap dysbacteriosis yang terus-menerus.

Respons kronis ini dapat mengurangi penambahan berat badan dan menyebabkan rendahnya efisiensi konversi pakan. Infeksi koksidiosis dan penyakit enterik lainnya dapat memperburuk efek dysbacteriosis.

Umumnya, ayam dengan dysbacteriosis memiliki jumlah Clostridium yang tinggi yang menghasilkan lebih banyak toksin, menyebabkan enteritis nekrotik.

Magni-Phi: Solusi kesehatan usus natural dari Phibro

Untuk mencegah dysbacteriosis, beberapa faktor penyebab perlu untuk diminimalisir, walaupun pada tingkat komersial sangat mustahil untuk benar-benar bebas dari ancaman tersebut.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Phibro Animal Health menghadirkan Magni-Phi. Magni-Phi adalah produk phytogenic natural kombinasi quillaja dan yucca.

Quillaja saponaria, sejenis pohon kulit sabun dari Chile dan Yucca schidigera, tanaman gurun dari barat daya Amerika, adalah sumber utama saponin dan polyphenol yang digunakan secara komersial pada industri sabun, detergen, sampo, kosmetik, dan minuman bersoda. Saponin spesifik dari quillaja telah digunakan secara luas sebagai adjuvan vaksin pada hewan dan manusia.

Penelitian telah menunjukkan bahwa steroid saponin dari yucca bisa mengurangi kadar sitokin yang berhubungan dengan respons inflamasi (Oelschlager dkk., 2019) dan triterpenoid saponin quillaja dikenal karena kemampuannya untuk merangsang kekebalan mukosa (Kensil, 1996).

Pada industri perunggasan, saponin quillaja dan yucca terbukti dapat mempengaruhi bakteri usus, dengan aktivitas utama terhadap Salmonella enterica ser. Typhimurium, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus dan organisme gram-positif lainnya (Hassan dkk., 2010).

Pada penelitian terbaru menunjukkan kombinasi saponin dari quillaja dan yucca (QY) memberikan efek antikoksidial pada broiler (Bafundo dkk., 2020). Data menunjukkan bahwa produksi ookista dan skor lesi berkurang hanya dengan kombinasi QY saja, dan ketika digunakan bersamaan dengan antikoksidial lainnya, efek dari antikoksidial dan performa produksi semakin meningkat.

Magni-Phi juga mengandung polyphenol, yang memiliki efek antioksidan, antimicrobial, dan anti inflamasi.

Sebagai feed additive pada broiler, kombinasi QY dapat mereduksi sel peradangan, meningkatkan efisiensi pakan dan performance (Bafundo dkk., 2021a). Senyawa bioaktif, saponin, dan polifenol dari QY meningkatkan integritas membran biologis usus, menunjukkan fungsi antioksidan (Sparg et al., 2004) dan mengurangi skor lesi pada tantangan koksidiosis (Bafundo dkk., 2020).

Selain itu, telah dilaporkan bahwa feed additive tersebut memberi manfaat positif pada kecernaan nutrisi, meningkatkan panjang vili usus, dan menurunkan jumlah ookista dan enteritis nekrotik (Bafundo et al., 2021a,b).

Studi percobaan di Indonesia

Sebanyak 5.400 ekor broiler Ross 308 ditempatkan ke 60 pen secara acak dengan 5 perlakuan dan 12 ulangan masing-masing 90 ekor (45 jantan dan 45 betina) pada tiap ulangan dalam rancangan acak kelompok lengkap (Randomized Complete Block Design).

Pen lantai ditempatkan pada kandang tertutup dengan lingkungan yang dikontrol dengan 5cm sekam padi sebagai bahan litter. Kepadatan tebar adalah 15 ekor/m2.

Ayam  diberikan pakan secara ad-libitum dengan 3 jenis pakan (0-10 pre-starter, 11-21 starter, dan 22-32 hari finisher) dengan formulasi sesuai dengan spesifikasi standar genetik dengan in-feed anticoccidial.

Perlakuannya adalah:

Hasil pengujian tersebut menunjukkan:

Kesimpulan

Magni-Phi secara ilmiah telah terbukti dapat mendukung kesehatan usus unggas dengan cara:

Hasil pengujian konsisten menunjukkan Magni-Phi dapat menurunkan FCR pada broiler sampai dengan 5 poin. Dengan demikian memungkinkan peternak untuk dapat tetap menjaga performa unggas tanpa penggunaan AGP.

Untuk informasi lebih detail terkait dengan Magni-Phi, klik: https://www.pahc.com/magniphi/home/


Referensi

Bafundo, Männer & Duerr (2021). The combination of Quillaja and Yucca saponins in broilers: Effects on performance, nutrient digestibility and ileal morphometrics. British Poultry Science, DOI: 10.1080/00071668.2021.1891523

Stefanello et al. (2022). Effects of a proprietary blend of Quillaja and Yucca on growth performance, nutrient digestibility, and intestinal measurements of broilers. Journal of Applied Poultry Research, https://doi.org/10.1016/j.japr.2022.100251

PDF
Exit mobile version