Festival Kekeruyuuuk! belum lama ini diselenggarakan oleh Animals Don’t Speak Human di Jiwa Garden, Badung.
Satu fokus utama festival ini adalah mengangkat isu perlindungan hewan, terutama ayam petelur, dalam konteks keberlanjutan ekosistem dan sistem peternakan yang lebih berwelas asih.
Pengunjung dapat mengetahui langsung melalui panel diskusi bagaimana kondisi ayam petelur yang diternakkan dalam kandang baterai. Tidak sebagai komoditas, tetapi sebagai makhluk hidup yang berperan penting dalam ekosistem pangan rumah tangga.
Pajangan boneka ayam petelur yang hidup sesak dalam kandang baterai menjadi titik interaksi yang menarik perhatian, terutama bagi orang-orang yang masih belum mengenal dengan apa yang disebut dengan kandang baterai.
Pengunjung juga diajak untuk melihat lebih dekat kehidupan ayam serta berdialog dengan fasilitator mengenai cara pemeliharaan yang lebih berempati dan berwelas asih.
Tema keberlanjutan
Festival ini menampilkan dua diskusi panel yang membahas tema besar keberlanjutan dari dua perspektif berbeda.
Panel-panel diskusi ini membahas:
Beberapa pembicara membagikan pengalaman membangun usaha berbasis lokal yang mendukung regenerasi alam dan komunitas.
“Saat ini dan di masa-masa yang akan datang, kepedulian terhadap kualitas pangan dan produksi pangan yang terlacak, terunut, termasuk yang dipelihara dengan cara apa, mulai tinggi. Sehingga konsumen makin memperhatikan asal-usul bahan pangannya,” jelas Ali Agus, Tenaga Ahli Menteri Pertanian.
“Sistem cage-free memberikan nilai tambahan terutama dalam aspek sustainable sourcing yang mendukung kerja-kerja keberlanjutan dan kesejahteraan hewan,” ungkap Hasanul Adha Fauzi, Marketing Manager MANA Ubud.
Pendekatan berwelas asih
Hal utama yang menjadi sorotan dari festival ini adalah pendekatan berwelas asih terhadap kehidupan hewan dan kaitannya dengan sistem pangan.
Animals Don’t Speak Human, sebagai penyelenggara festival, menghadirkan ayam petelur bukan sebagai tontonan eksotik atau objek pajangan, melainkan sebagai bagian dari percakapan penting tentang keberlanjutan dan keadilan ekologis.
Dalam berbagai sesi informal, pengunjung diajak merenungkan kembali relasi manusia dengan hewan yang diternakkan:
Animals Don’t Speak Human menegaskan bahwa festival ini adalah bagian dari upaya mereka menciptakan percakapan yang lebih terbuka dan empatik soal kesejahteraan hewan.
“Melalui Festival Kekeruyuuuk!, kami ingin menyuarakan isu ini agar masyarakat menjadi lebih paham dan lebih kritis menjadi konsumen serta bisa mendorong perusahaan atau pebisnis untuk menyediakan telur yang lebih ramah terhadap hewan,” kata Fiolita Berandhini, founder Animals Don’t Speak Human.
Festival Kekeruyuuuk! telah membuka pintu untuk percakapan yang lebih luas dan mendalam tentang keberlanjutan yang menyeluruh, keberlanjutan yang tidak hanya berpihak pada manusia, tetapi juga pada hewan.