Janu Putra Sejahtera, perusahaan unggas terintegrasi yang berbasis di Yogyakarta, telah menetapkan arah strategis yang prospektif untuk 2026, yaitu berfokus pada penguatan unit bisnis ayam petelur (layer) komersial dan ekspansi kapasitas pembibitan (breeding).
Strategi perusahaan ini sejalan dengan momentum kebijakan pemerintah, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diproyeksikan akan mendongkrak permintaan protein hewani nasional.
Pergeseran fokus Janu Putra ini dilakukan untuk menangkap unit usaha yang dinilai lebih stabil dan berpotensi memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pendapatan perusahaan.
Direktur Utama, Sri Mulyani, menegaskan komitmen perusahaan untuk memanfaatkan potensi besar di sektor ayam petelur komersial, mengingat kontribusinya yang stabil dan kebutuhan telur nasional yang terus meningkat.
Janu Putra merencanakan alokasi belanja modal sekitar Rp 130 miliar di 2026. Anggaran ini akan diarahkan terutama untuk kedua strategi bisnis tersebut.
Rencana pembangunan hatchery (fasilitas penetasan) akan direalisasikan di Kulonprogo, Yogyakarta di 2026 untuk mendukung bisnis breeding perusahaan. Dengan memiliki hatchery sendiri, perusahaan berharap dapat mencapai efisiensi yang lebih tinggi untuk DOC parent stock (PS) dan final stock.
Pandangan para analis pasar
Secara fundamental, riset dari NH Korindo Sekuritas Indonesia menyebut:
- Ke depannya, Janu Putra akan fokus pada efisiensi pakan dengan menjalin usaha patungan (joint venture) dan kolaborasi jangka panjang.
- Perusahaan juga menargetkan lebih banyak kolaborasi untuk efisiensi operasional yang lebih tinggi karena memiliki rekam jejak yang solid, seperti usaha patungan dengan perusahaan asal Eropa De Heus Indonesia di mana mereka mendirikan kandang grand parent stock (GPS) untuk ayam pedaging dengan teknologi canggih.
- Janu Putra berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan momentum saat ini karena merupakan salah satu produsen unggas utama yang dimiliki secara lokal. Status kepemilikan lokalnya berarti mendapatkan keuntungan dalam menangkap pangsa pasar yang cukup besar dari kontrak pemerintah dan yang terkait dengan pemerintah. Program MBG diantisipasi akan melayani 82,9 juta penerima dengan daging ayam dan telur ayam menjadi komponen kunci dalam menunya.
Senada, riset Sinarmas Sekuritas menyatakan bahwa:
- Integrasi hulu-hilir (dari pembibitan hingga distribusi daging olahan) memungkinkan pasokan DOC yang stabil, efisiensi biaya yang lebih baik, dan jaminan kualitas yang ditingkatkan di setiap tahap produksi. Kerangka kerja ini mendasari posisi kompetitif Janu Putra dalam lanskap unggas Indonesia yang terfragmentasi.
- Dengan program MBG yang sepenuhnya diluncurkan, rencana ekspansi 323 fasilitas unggas secara nasional, dukungan dari program investasi skala besar, dan pola konsumsi yang meningkat, sektor unggas Indonesia diposisikan untuk pertumbuhan berkelanjutan. Model terintegrasi Janu Putra dan jejak strategis di Jawa menempatkan perusahaan pada posisi yang menguntungkan untuk menangkap permintaan.
Sedangkan riset Phintraco Sekuritas menyatakan:
- Implementasi penuh program MBG di 2026 dengan penerima manfaat mencapai 82.9 juta penerima dapat menstabilkan permintaan daging ayam dan telur. Di sisi lain, anggaran sebesar Rp 20 triliun yang disiapkan oleh Danantara untuk sektor pangan dan peternakan juga menjadi sentimen positif bagi sektor perunggasan ke depannya. Janu Putra berada pada posisi yang strategis dalam memanfaatkan momentum ini, mengingat perusahaan merupakan salah satu perusahaan perunggasan yang dimiliki secara lokal, yang berpotensi memberikan keunggulan dalam memperoleh kontrak/kerjasama dalam program pemerintah.
- Hingga saat ini, Janu Putra telah menyuplai beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada program MBG di Yogyakarta dan Jawa Tengah (2 kabupaten di Yogyakarta dan 1 kabupaten di Jawa Tengah). Perusahaan melaporkan bahwa pembayaran dari program MBG pemerintah berjalan dengan lancar dan optimal.
Senada dengan berbagai riset lainnya, Ajaib Sekuritas menilai:
- Memasuki 2026, prospek pemulihan industri perunggasan dan momentum struktural diperkirakan memperkuat bisnis Janu Putra ke depannya. Perusahaan memprioritaskan penguatan kapasitas GPS/PS dan layer, peningkatan kinerja RPA dan produk olahan, serta perluasan infrastruktur rantai dingin untuk memperkuat hilirisasi. Kolaborasi dengan perusahaan pakan, logistik, dan distributor luar Jawa menjadi strategi kunci untuk mereduksi ketimpangan distribusi nasional.
- Dengan proyeksi konsumsi daging ayam nasional mencapai 14-15 kg per kapita pada 2026, dukungan penuh program MBG, serta potensi ekspansi ke wilayah seperti Kalimantan, Janu Putra berada pada posisi strategis untuk menangkap pertumbuhan permintaan protein hewani.
- Meski risiko jangka pendek seperti fluktuasi harga pakan, siklus harga ayam, dan risiko kesehatan unggas tetap ada, model bisnis terintegrasi dan arah strategi perusahaan memberi landasan bagi pemulihan kinerja dan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dalam jangka menengah.

