Site icon aviNews, la revista global de avicultura

Memperketat keamanan pangan hewani untuk program MBG

Escrito por: aviNews Indonesia
PDF

Kementerian Pertanian menyoroti pentingnya memperketat keamanan pangan hewani demi mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, pangan hewani seperti daging, telur, dan susu mengandung nutrisi tinggi dan penting untuk tumbuh kembang anak.

Namun, pangan hewani ini juga mudah rusak dan bisa tercemar jika tidak ditangani dengan benar. Karena itu, pengawasannya harus ketat, tekannya saat kegiatan Pelatihan Pengawas Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) belum lama ini di Jakarta.

“Pangan asal ternak kualitasnya tinggi, tapi sifatnya mudah rusak. Negara wajib memastikan produk hewani yang dikonsumsi masyarakat benar-benar aman,” kata Agung.

Khususnya program MBG, ia menegaskan bahwa keamanan pangan menjadi faktor kunci.

“Dari bahan baku sampai distribusi, semuanya harus ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Ini krusial untuk mendukung perbaikan gizi anak,” kata Agung.

Berdasarkan pemantauan di lapangan, daging ayam, telur, dan susu menjadi sumber protein hewani utama yang disiapkan dalam menu MBG karena disukai anak dan mudah diakses.

Peran pengawas Kesmavet

Agung mengungkapkan bahwa praktik pemalsuan dan penyimpangan pangan hewani masih ditemukan di lapangan. Karena itu, peran pengawas Kesmavet sangat penting untuk memastikan pangan hewani aman, layak, dan halal sebelum sampai ke konsumen.

Ia menekankan perlunya kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, dan berbagai lembaga agar pengawasan pangan berjalan lebih efektif. Pendekatan yang lebih cepat dan inovatif diperlukan agar keamanan pangan dapat dijaga sepanjang rantai produksi.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, I Ketut Wirata, mengatakan jumlah pengawas Kesmavet saat ini masih terbatas.

Hingga September 2025, tercatat 422 pengawas aktif di seluruh Indonesia. Jumlah ini belum merata karena adanya kekurangan dokter hewan, mutasi pegawai, dan pensiun.

“Tahun ini kami menambah 63 pengawas baru sehingga totalnya menjadi 485 orang. Jumlah ini masih belum ideal, tetapi kami terus berupaya menambah SDM agar pengawasan bisa menjangkau seluruh wilayah,” kata Ketut.

Inneke Kusumawaty, Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, menegaskan komitmen lembaganya untuk terus melahirkan pengawas Kesmavet yang kompeten.

Ia berharap para lulusan pelatihan dapat memperkuat pengawasan di lapangan dan memastikan pangan hewani yang beredar benar-benar aman.

“Pengawas Kesmavet adalah garda terdepan dalam memastikan pangan hewani yang dikonsumsi masyarakat adalah ASUH dan mendukung keberhasilan program MBG,” kata Inneke.

PDF
Exit mobile version