Site icon aviNews, la revista global de avicultura

Para peternak broiler makin terpuruk, harga live bird sentuh Rp 13.000 per kg

Escrito por: aviNews Indonesia
PDF

Para peternak broiler (ayam pedaging) makin terpuruk sebab harga live bird (ayam pedaging hidup) menyentuh angka Rp 13.000 per kg di 27 Juni 2026, ungkap Asep Saepudin, pengurus di Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo).

Menurut pantauan Permindo, penurunan harga live bird ini telah berlangsung sejak April 2026, di mana penurunannya sempat di angka Rp 18.000 per kg.

“Di Jawa Barat, harga live bird sudah Rp 13.000-14.000 per kg. Ini yang terburuk,” kata Asep.

Padahal, sambung dia, harga pokok produksi (HPP) telah naik ke angka Rp 22.000-23.000 per kg sebab terjadi kenaikan pada sejumlah bahan pokok produksi.

Di sisi lain, penurunan harga live bird terus berlanjut seiring dengan rendahnya daya beli, sehingga pasokan menumpuk di kandang.

Kelebihan stok live bird

Asep mengatakan bahwa saat ini hampir semua sentra produksi broiler mengalami kelebihan stok live bird.

“Jawa Tengah sudah kelebihan pasokan di tingkat yang luar biasa. Begitu juga dengan Banten dan Jawa Barat. Ini artinya produksi sudah melebihi kebutuhan, tapi tidak termonitor. Jawa Tengah yang kelebihan pasokan mengirim ke Jawa Barat. Jawa Barat juga memasok Jakarta. Lampung juga kadang mengirim live bird ke Jawa Barat dan Jakarta, sementara kami tidak bisa masuk ke Lampung,” terangnya.

Minta daging ayam jadi bansos

Kondisi sulit ini semakin diperparah dengan liburnya anak sekolah, di mana program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga sedang diberhentikan sementara, meski penyerapan MBG juga tidak begitu besar, kata Asep.

Karena itu, Permindo meminta agar pemerintah memasukkan kembali daging ayam sebagai bagian dari bantuan sosial (bansos).

Kata Asep, sebelumnya ada bansos untuk 1,5 juta orang yang mendapatkan daging ayam dan telur ayam. Jika program ini diadakan kembali, maka penyerapan live bird juga terbantu.

Pemerintah diminta turun tangan

Permindo, kata Asep, meminta pemerintah turun tangan, karena para peternak broiler tidak memiliki kekuatan agar pengepul membeli sesuai dengan harga acuan.

Dalam aturan Badan Pangan Nasional, harga pembelian live bird di tingkat peternak adalah Rp 21.000-25.000 per kg.

“Ketika harga turun, para peternak banting harga jual karena modal terbatas karena pakan harus dibayar. Kalau ayam tidak dijual, mereka tidak punya uang untuk beli pakan periode berikutnya. Sementara kalau dijual, harga jualnya hancur. Konsekuensi kalau tidak dijual, bobot ayam makin besar dan biaya produksi makin tinggi. Ini lah dilema para peternak,” jelas Asep.

Kontrol investasi baru

Terkait investasi baru, Asep berharap para pemerintah daerah tidak terlalu mudah dalam memberi izin pembangunan kandang baru.

“Pemerintah daerah seharusnya menyeimbangkan antara kebutuhan daerah dengan total populasi broiler di daerah tersebut. Jangan setiap ada investasi kandang baru langsung diterima. Ujung-ujungnya, semua pelaku akan bangkrut,” katanya.

PDF
Exit mobile version