Site icon aviNews, la revista global de avicultura

Saham emiten-emiten unggas bergerak variatif merespon pengunduran diri Nanik S Deyang

Escrito por: aviNews Indonesia
PDF

Pengunduran diri Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menjadi perhatian investor karena keterkaitannya dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini dinilai menjadi katalis positif bagi emiten-emiten sektor perunggasan.

Program MBG telah mendorong optimisme pasar terhadap prospek permintaan produk pangan, khususnya komoditas unggas, sehingga turut menopang ekspektasi terhadap kinerja saham emiten-emiten seperti Charoen Pokphand Indonesia dan Japfa Comfeed Indonesia. Karena itu, dinamika yang terjadi di tubuh BGN dinilai berpotensi memengaruhi sentimen investor.

Setelah sebelumnya BGN diterpa isu hukum yang melibatkan mantan kepala lembaga tersebut, Dadan Hindayana, kini perhatian pasar tertuju pada keputusan Nanik untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Nanik baru menjabat sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 8 Juni 2026 sebagai pengganti Dadan.

Perubahan kepemimpinan di BGN dinilai berpotensi menjadi sentimen yang diperhatikan investor, mengingat keberlanjutan dan arah implementasi program MBG memiliki keterkaitan dengan ekspektasi permintaan sektor pangan, termasuk industri unggas.

Pada perdagangan pagi sekitar pukul 09.40 WIB, pergerakan saham emiten unggas terpantau beragam. Saham Widodo Makmur Perkasa bertahan di level Rp 20, sementara Malindo Feedmill stagnan di Rp 715 setelah sempat menyentuh Rp 720. Sementara itu, saham Sreeya Sewu Indonesia terkoreksi 0,72% menjadi Rp 685.

Kemudian, saham Charoen Pokphand Indonesia menguat 0,32% ke level Rp 3.140, sedangkan Japfa Comfeed Indonesia naik 0,96% ke posisi Rp 2.090.

Pembenahan di BGN

Dalam keterangannya, Nanik menyampaikan bahwa selama hampir dua bulan memimpin BGN, sejumlah langkah pembenahan telah dilakukan.

Di antaranya adalah pergantian lima pejabat eselon I yang berasal dari berbagai kementerian dan lembaga, meliputi Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Keuangan, BPKP, serta Kejaksaan.

Selain itu, BGN disebut telah membentuk 11 tim reformasi yang bertugas melakukan evaluasi terhadap ketepatan sasaran penerima manfaat, meninjau kinerja 27.877 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga memperkuat implementasi program di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Nanik juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo memberikan arahan agar pelaksanaan MBG lebih difokuskan pada kelompok prioritas, yakni balita, ibu hamil, ibu menyusui, siswa SD dan SMP, serta peserta didik di wilayah 3T.

Bagi pasar modal, kepastian arah kebijakan dan keberlanjutan program MBG dipandang tetap menjadi faktor penting dalam membentuk sentimen terhadap saham-saham sektor perunggasan ke depannya.

PDF
Exit mobile version