Telur-telur ayam produksi Telur Moe Farm kini dapat dicantumkan label ‘Certified Humane’ setelah belum lama ini mendapatkan sertifikat kesejahteraan hewan dari Humane Farm Animal Care, sebuah lembaga sertifikasi kesejahteraan hewan dari Amerika Serikat.
Telur Moe Farm dikelola oleh komunitas difabel dari Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) di Yogyakarta. Komunitas ini diberdayakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Untuk menyandang label ‘Certified Humane’, sebuah peternakan harus memastikan ayam-ayamnya hidup dengan kecukupan ruang, pakan dan air minum, serta lingkungan yang aman.
Selain itu, ayam-ayam di peternakan yang tersertifikasi tidak dikurung dalam kandang baterai yang sempit, melainkan dilepas dan diberikan pakan yang berkualitas.
Dibimbing untuk berhasil
Komunitas difabel yang mengelola Telur Moe Farm dibimbing oleh Arya Khoirul dari MPM yang juga merupakan sosok penggagas dari peternakan ini.
“Pada awalnya, mereka belum pernah beternak ayam petelur dan bagaimana menghasilkan telur yang sehat dan berkualitas,” kata Arya.
Ia mengungkapkan bahwa kini Telur Moe Farm telah menerapkan standar kesejahteraan hewan yang tinggi dengan sistem free range dan sistem ketertelusuran (traceability) telur yang baik. Alhasil, telur-telur yang diproduksi juga berkualitas baik.
Sistem free range adalah metode beternak di mana ayam tidak terus-menerus dikurung, melainkan diberi akses untuk berkeliaran di area terbuka atau padang rumput setidaknya sebagian waktu, membiarkan mereka mengekspresikan perilaku alami seperti mencari makan sendiri, berjalan bebas, dan berjemur matahari.
“Sebanyak 300 ekor ayam petelur yang dipelihara saat ini sudah berumur 100 minggu dengan produktivitasnya masih di atas 83%. Padahal, kalau menurut pedoman, produktivitas di umur tersebut hanya sekitar 60% saja. Keberhasilan ini tentu karena kesungguhan dari para difabel dan penerapan teknologi dan standar yang baik,” kata Arya.
Meluncurkan program kemitraan untuk kemandirian para difabel
Di akhir Desember lalu, Telur Moe Farm meluncurkan sebuah program kemitraan, sebuah upaya peningkatan ekonomi berbasis inklusi melalui pengembangan peternakan ayam petelur.
Program kemitraan ini berkolaborasi dengan menggandeng Lazismu dan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta sebagai mitra.
Program kemitraan ini juga ditujukan untuk meningkatkan total populasi ayam petelur Telur Moe Farm, dari 300 ekor saat ini menjadi 1.000 ekor.
Nurul Yamin, Ketua MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengatakan kandang ayam petelur yang telah dan akan dibangun adalah ramah untuk para difabel.
“Kursi roda bisa masuk. Mereka bisa memberi pakan dan melakukan aktivitas lainnya,” tambahnya.
Program kemitraan ini, menurut Nurul, akan menciptakan aktor ekonomi bagi komunitas-komunitas difabel, sehingga semangat kemandirian dapat diwujudkan dan perekonomian masyarakat pun meningkat.
“Kelompok-kelompok yang selama ini termarjinalkan mendapatkan ruang untuk berekspresi secara ekonomi,” pungkasnya.

