Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras pada September 2025. Salah satu penyebabnya adalah penurunan produksi jagung.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan harga daging ayam ras naik 4,13% dibanding Agustus 2025. Rata-rata harga daging ayam ras nasional kini mencapai Rp 37.956 per kg.
“Harga daging ayam ras dan telur ayam ras, yang kemudian nanti kami sandingkan dengan statistik produksi jagung, yang memang ternyata dari hasil statistik produksi jagung, itu di Agustus-September-Oktober memang sedang mengalami penurunan,” terang Amalia.
Harga telur ayam ras juga meningkat 0,21% menjadi Rp 30.721 per kg. Kenaikan ini dipicu biaya pakan yang semakin tinggi.
Amalia mengungkapkan bahwa harga jagung pipilan kering sebagai bahan pakan ternak ikut naik signifikan. Kondisi ini membuat harga daging ayam dan telur terdorong naik.
Data BPS menunjukkan produksi jagung turun tajam dalam tiga bulan terakhir. Pada Agustus turun 21%, September turun 24,73%, dan Oktober diperkirakan turun 15,67%.
Secara total, penurunan produksi jagung pipilan kering pada periode Agustus hingga Oktober mencapai 20,87% atau 0,96 juta ton. Namun secara kumulatif pada periode Januari hingga Oktober, produksi jagung masih tumbuh 3,98%.
Menurut Amalia, penurunan produksi jagung tetap berdampak besar terhadap harga daging ayam dan telur. Hal ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah dan semua pihak.
Ia juga menyoroti aturan harga minimum ayam hidup sebesar Rp 18.000 per ekor. Aturan ini diduga ikut mempengaruhi kenaikan harga daging ayam ras di pasaran.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian mengatakan telur ayam ras kini harus mendapat perhatian serius. Telur merupakan kebutuhan pokok yang dikonsumsi masyarakat luas setiap hari.
Tito menyebut telur tidak hanya dikonsumsi langsung, tetapi juga bahan utama berbagai olahan. Mulai dari roti, kue, hingga produk makanan lain sangat bergantung pada telur.

