Sreeya Sewu Indonesia mengumumkan kenaikan laba sebesar 783% di 2025 dan disebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut berkontribusi.
Menurut laporan keuangan per 31 Desember 2025 dari perusahaan unggas terintegrasi ini, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 29,3 miliar, naik dari sebelumnya Rp 3,32 miliar.
Dari sisi operasional:
Direktur Natanael Yuyun Suryadi mengungkapkan bahwa program MBG yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto turut mendorong stabilitas harga ayam di pasar.
Dengan permintaan ayam potong yang meningkat, pendapatan Sreeya Sewu Indonesia pun ikut terdorong, utamanya dari penjualan pakan ternak, tambahnya.
“Dengan program MBG yang penyebarannya secara nasional, harga ayam potong secara keseluruhan berada di tingkat harga yang cukup bagus,” kata Natanael.
Stabilitas ini berbeda dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ketika harga sempat anjlok hingga Rp 14.500-15.000 yang menjadi titik terendah dalam lima tahun terakhir.
Target di 2026
Untuk 2026, Sreeya Sewu Indonesia menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10-15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara dari sisi laba sebelum pajak, perusahaan membidik pertumbuhan sekitar 30-40%.
Manajemen Sreeya Sewu Indonesia melihat potensi pertumbuhan industri ayam nasional ke depan masih terbuka lebar. Menurut data yang mereka rujuk, konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia saat ini berada di kisaran 10,1-10,5 kg per tahun, masih lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Filipina dan Thailand yang sudah di atas 12 kg.
Secara industri, Sreeya Sewu Indonesia optimistis konsumsi ayam per kapita domestik dapat meningkat 10-20% dalam beberapa tahun ke depan. Peningkatan ini diyakini akan menjadi pendorong utama pertumbuhan kinerja perusahaan pada periode 2027-2028.