Harga telur ayam yang anjlok di sentra-sentra produksi telur seperti di Blitar, Jawa Timur, menjadi perhatian Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M Sarmuji.
Kondisi ini, menurutnya, memprihatinkan di tengah tingginya harga pakan.
“Saat ini terjadi ketidakseimbangan yang serius. Harga pakan tetap tinggi, tetapi harga telur di tingkat peternak justru turun di kisaran Rp 21.000-22.000 per kg. Kondisi ini jelas merugikan peternak dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” ujarnya.
Sarmuji menjelaskan, situasi ini membutuhkan langkah cepat dari pemerintah sebagai solusi jangka pendek untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak rakyat. Tanpa intervensi, tekanan ini berpotensi memperlemah sektor peternakan nasional yang selama ini menjadi penopang penting ketahanan pangan.
Meningkatkan penggunaan telur dalam menu MBG
Sarmuji mendorong pemerintah meningkatkan frekuensi penggunaan telur dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama sedikitnya satu hingga dua bulan ke depan. Upaya ini diharapkan dapat menambah permintaan telur di pasar sehingga harga di tingkat peternak bisa kembali lebih rasional.
“Program MBG bisa menjadi instrumen efektif untuk menyerap produksi telur peternak. Dengan peningkatan frekuensi menu telur, kita bisa membantu menyeimbangkan harga sekaligus memastikan program gizi berjalan optimal,” tambahnya.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan dari peternak, khususnya dari sentra produksi seperti Blitar. Jumlah peternak ayam petelur yang banyak membuat persoalan ini berdampak luas terhadap ekonomi rakyat.
“Keluhan dari peternak terus berdatangan. Ini menunjukkan masalahnya nyata dan dirasakan langsung oleh pelaku usaha di lapangan. Pemerintah perlu segera hadir dengan kebijakan yang responsif dan tepat sasaran,” ujarnya.
Fraksi Partai Golkar DPR RI, menurut Sarmuji, akan terus mendorong agar pemerintah mengambil langkah konkret guna menjaga keseimbangan harga dan melindungi keberlangsungan peternak ayam petelur rakyat.