Kondisi sulit sedang dialami para peternak ayam petelur di berbagai daerah sebab harga jual telur ayam di tingkat peternak kini merosot tajam hingga hanya di kisaran Rp 20.000 per kg. Padahal, di tingkat konsumen, harga jual telur masih sekitar Rp 26.000-27.000 per kg di pasar-pasar tradisional.
Turunnya harga jual telur ayam di tingkat peternak tersebut dipicu oleh melimpahnya pasokan di pasar yang tidak sebanding dengan daya beli masyarakat, menurut Ki Musbar Mesdi, Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional (PLN).
Selain itu, tambahnya, serapan pasar yang rendah juga membuat stok telur ayam terus menumpuk. Produksi telur ayam yang tinggi disebut belum mampu diimbangi dengan permintaan pasar yang memadai.
“Terjadi kelebihan pasokan karena populasi naik 20% dan stok telur ayam menumpuk di kandang-kandang akibat turunnya serapan dari masyarakat karena kemampuan daya beli mereka turun,” kata Musbar kepada media lokal.
“Harga telur ayam memang sudah terpuruk kurang lebih sebulan di bawah harga pokok produksi, terutama di Kabupaten Blitar dan sekitarnya di Jawa Timur yang merupakan sentra peternak ayam petelur terbesar di Indonesia.”
Kata Musbar, harga telur ayam di tingkat peternak saat ini sudah jauh berada di bawah ketentuan harga yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 06 Tahun 2024.
Upaya stabilkan harga telur ayam
Sebelumnya Kementerian Pertanian berjanji akan berpihak ke para peternak yang dihadapkan pada anjloknya harga jual telur ayam. Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kementerian Pertanian, mengatakan pihaknya berkomitmen menjaga stabilitas harga jual telur agar usaha peternakan rakyat bisa terus berlanjut.
“Arahan dari Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman sangat jelas, negara harus hadir menjaga para peternak rakyat agar tetap mampu berusaha dan berkembang,” ujar Agung dalam keterangan resminya.
Agung mengatakan pihaknya memahami tekanan yang dirasakan para peternak karena anjloknya harga jual telur di tingkat produsen. Menurutnya, Kementerian Pertanian bakal terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah-pemerintah daerah, asosiasi-asosiasi peternak, kementerian-kementerian lain, hingga para pengusaha guna menjaga rantai pasok dan permintaan telur ayam.
“Langkah ini penting agar harga jual di tingkat peternak dapat kembali bergerak lebih stabil,” katanya.
Ia menekankan produksi telur ayam di tanah air cukup kuat untuk menopang ketahanan pangan nasional. Telur diketahui menjadi salah satu komoditas pangan yang sudah mencapai swasembada bahkan telah diekspor ke negara lain.
Pemerintah menyadari peran strategis para peternak ayam petelur sehingga mereka harus dijaga melalui penguatan tata niaga dan distribusi. “Yang perlu diperkuat adalah tata niaga, distribusi, dan hilirisasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh para peternak rakyat,” tutur Agung.