Pemerintah Republik Indonesia mempercepat pemerataan pasokan protein hewani nasional melalui pembangunan ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi. Program ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat produksi sekaligus memperluas peluang usaha bagi peternak di berbagai daerah.
Pengembangan tahap awal dilakukan di Sulawesi Selatan melalui kolaborasi antara BUMN pangan ID FOOD dan Ugi Agri Harapan Indonesia. Skema ini dirancang untuk menjawab meningkatnya kebutuhan daging ayam dan telur, terutama dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selama ini, produksi ayam nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga berpotensi menimbulkan ketimpangan pasokan dan harga di wilayah lain apabila tidak diantisipasi secara sistematis dan berkelanjutan.
Agung Suganda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kementerian Pertanian, menegaskan bahwa pembangunan ekosistem dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir agar lebih efisien dan berdampak luas.
“Yang kita bangun bukan hanya produksi, tetapi ekosistem yang memastikan penyerapan, keberlanjutan, dan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Agung saat penandatanganan MoU kerja sama offtake hasil peternakan antara ID FOOD dan Ugi Agri Harapan Indonesia di Jakarta.
Keterlibatan peternak jadi bagian penting
Menurut Agung, keterlibatan peternak menjadi bagian penting dalam sistem tersebut. Melalui kemitraan, peternak tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga memperoleh kepastian pasar serta dukungan teknis produksi.
Ia menjelaskan bahwa BUMN berperan dalam penguatan sektor hulu seperti penyediaan bibit dan pakan, sementara budidaya hingga pengolahan dilakukan bersama mitra dan peternak lokal agar sistem berjalan terintegrasi.
“Kunci keberhasilan ada pada implementasi di lapangan yang berjalan paralel dan terkoordinasi, bukan bertahap terpisah,” tambahnya.
Agung juga menegaskan bahwa program ini harus segera diwujudkan dalam aksi nyata di lapangan. “Program ini tidak boleh berhenti pada penandatanganan MoU, tetapi harus segera dilanjutkan dengan aksi nyata di lapangan,” tegasnya.
Kepastian penyerapan hasil produksi
Ghimoyo, Direktur Utama ID FOOD, menyatakan bahwa pihaknya memastikan hasil produksi peternak dapat terserap dengan baik terutama untuk kebutuhan MBG.
“Kami memastikan hasil peternakan terserap, terutama untuk memenuhi kebutuhan program MBG, sehingga harga tetap stabil dan peternak memiliki kepastian pasar,” ujarnya.
Sementara itu, Andi Damisnur, Direktur Ugi Agri Harapan Indonesia, menegaskan kesiapan kolaborasi pihaknya di lapangan bersama BUMN dan peternak.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri, sehingga kolaborasi dengan BUMN dan berbagai pihak menjadi kunci agar seluruh proses dari produksi hingga distribusi berjalan terintegrasi,” kata Andi.
Andi juga berharap adanya pendampingan berkelanjutan dari pemerintah. “Ugi Agri Harapan Indonesia dalam hal ini mengharapkan pemerintah tidak bosan-bosannya memberikan petunjuk dan arahan. Teknis pelaksanaannya nanti bagaimana agar tujuan kita hilirisasi ayam, mulai dari pabrik pakan, pengolahan, hingga pemasaran dapat berjalan dengan lancar,” katanya.
Lebih lanjut, ia menargetkan pengembangan program dapat meluas ke seluruh wilayah Indonesia Timur.