Kementerian Pertanian memastikan produksi ayam pedaging (broiler) di tingkat peternak berjalan normal meskipun muncul pemberitaan kenaikan harga daging ayam di Pasar Cibadak, Sukabumi.
Pemerintah menilai persoalan utama bukan pada ketersediaan, melainkan pada kelancaran distribusi dari kandang menuju pasar.
Kesimpulan tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi yang digelar Kementerian Pertanian bersama pelaku usaha perunggasan pada 13 Februari 2026. Pertemuan ini melibatkan peternak rakyat, perusahaan budidaya broiler, perusahaan terintegrasi, hingga asosiasi.
Memastikan tidak ada simpul distribusi
Hary Suhada, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak di Kementerian Pertanian, menegaskan pemerintah berkepentingan agar tidak ada simpul distribusi yang merugikan peternak maupun konsumen.
“Dari sisi ketersediaan, ayam hidup maupun karkas adalah cukup. Karena itu yang perlu diperkuat adalah pengawalan distribusi supaya suplai di pasar tidak terhambat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dinamika harga menjelang hari besar keagamaan biasanya bersifat musiman. Namun pemerintah tetap melakukan pemantauan ketat.
“Kami terus berkoordinasi dengan dinas-dinas daerah untuk memastikan tata niaga berjalan baik, termasuk pengawasan terhadap jalur distribusi agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi,” kata Hary.
Produksi di kandang tidak berkurang
Dari sisi pelaku usaha, Muchlis, Sekretaris Jenderal PINSAR, memastikan produksi di kandang tidak berkurang.
“Apabila terjadi kenaikan harga di tingkat konsumen yang melebihi harga acuan, hal tersebut bukan disebabkan oleh kekurangan stok di kandang. Kami melihat adanya potensi persoalan pada mata rantai distribusi yang perlu menjadi perhatian bersama agar tidak merugikan peternak maupun masyarakat,” terang Muchlis.
Herry Dermawan, Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional, mengingatkan kabar kekurangan barang bisa memicu kepanikan.
“Begitu muncul kabar kurang barang, kepanikan bisa terjadi. Padahal di kandang ada. Kami siap membantu dinas dan pemerintah daerah untuk memastikan distribusi berjalan normal,” ujar Herry.
Di sisi hulu, Wismarianto, Ketua Peternak Pembudidayaan Unggas Niaga, memastikan pasokan DOC tetap terjaga.
“Suplai dari hulu aman. Artinya siklus produksi ke depan juga terjaga. Kami mendukung penuh langkah pemerintah menertibkan jalur distribusi,” katanya.
Sementara itu, Achmad Dawami, Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas, menyatakan, “Prinsipnya kami tidak ingin ada ruang spekulasi. Produksi ada dan siap ditarik pasar.”
Sebagai perwakilan dari perusahaan terintegrasi, Sigit Prabowo dari Taat Indah Bersinar menyampaikan kesiapan perusahaannya untuk menambah suplai jika diperlukan.
“Perusahaan kami siap mempercepat suplai apabila dibutuhkan. Bila ada permintaan tambahan dari Sukabumi, armada kami siap. Koordinasi teknis tinggal disambungkan agar pengiriman lebih efisien,” katanya.
Diperlukan penguatan pengawasan distribusi
Berdasarkan pemantauan PINSAR, suplai ayam di wilayah Sukabumi mencapai 48-50 ton per hari dan dinilai cukup memenuhi kebutuhan masyarakat. Meski demikian, terdapat indikasi perlambatan produk yang masuk ke pasar sehingga pengawasan distribusi perlu diperkuat.
Data rapat juga mencatat harga ayam hidup di kandang pada pekan kedua Februari rata-rata Rp 25.000/kg, dan pada 11 Februari sekitar Rp 26.000/kg untuk bobot 2kg. Pelaku usaha menilai harga di hulu relatif stabil.
Dengan distribusi yang lebih lancar, peternak berharap ritme panen kembali normal, biaya pemeliharaan tidak membengkak, serta kepastian serapan pasar tetap terjaga.
Pemerintah bersama asosiasi pun menyiapkan langkah komunikasi publik agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kepanikan.