Prospek bisnis Japfa Comfeed Indonesia di tahun ini dinilai semakin solid seiring percepatan implementasi program nasional pemenuhan gizi melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Semakin bertambahnya jumlah SPPG yang beroperasi akan menjadi motor utama peningkatan permintaan daging ayam dan telur secara struktural di tahun ini.
Jumlah SPPG dan efek positifnya pada permintaan daging ayam dan telur
Paulina Margareta, Analis di Maybank Sekuritas Indonesia, memperkirakan sekitar 17.500 unit SPPG yang saat ini telah beroperasi berpotensi mendorong permintaan daging ayam dan telur tumbuh sekitar 18% secara tahunan pada tahun buku 2026.
Bahkan, apabila target pemerintah mencapai 35.000 SPPG terealisasi sepenuhnya pada 2026, kenaikan permintaan daging ayam dan telur diperkirakan bisa mencapai 36% secara tahunan.
“Kenaikan jumlah SPPG dalam beberapa waktu terakhir menegaskan cepatnya implementasi program nasional ini,” ujar Paulina dalam riset terbarunya.
Dari sisi kebijakan, komitmen pemerintah juga tercermin dari alokasi anggaran negara tahun 2026 sebesar Rp 335 triliun untuk program nasional tersebut.
Besarnya dukungan fiskal ini dinilai menempatkan program pemenuhan gizi sebagai katalis utama bagi sektor perunggasan, sekaligus membuka ruang pertumbuhan yang lebih berkelanjutan bagi pelaku usaha terintegrasi seperti Japfa.
Strategi hilir dan kualitas laba Japfa
Ezaridho Ibnutama, Analis di NH Korindo Sekuritas, menilai penguatan strategi hilir dinilai semakin meningkatkan kualitas laba Japfa.
Perseroan terus memperluas bisnis pengolahan unggas dan produk konsumen. Belanja modal pada 2025 dipatok sebesar Rp 2,2-2,5 triliun, dengan sekitar 80% dialokasikan untuk bisnis unggas.
Ezaridho memperkirakan segmen pengolahan unggas dan produk konsumen akan tumbuh 19% sepanjang 2025, didukung tingkat utilisasi yang solid sebesar 72%, sehingga mendorong pergeseran sumber pendapatan ke produk bernilai tambah lebih tinggi.
Dengan begitu pada periode selanjutnya, Ezaridho juga menaikkan proyeksi pertumbuhan pendapatan Japfa pada 2026 dan 2027 masing-masing menjadi 12% dan 13%, secara tahunan.
“Kondisi ini mencerminkan momentum hilir yang lebih kuat serta lingkungan harga unggas yang lebih resilien, didukung oleh permintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, didorong oleh inovasi produk yang berkelanjutan serta ekspansi merek,” ujar Ezaridho dalam riset terbarunya.
Selain faktor permintaan, kualitas laba Japfa juga diproyeksikan membaik seiring penguatan lini produk konsumen.
Langkah ini dinilai sebagai faktor struktural positif karena dapat memperbaiki bauran pendapatan dan mengurangi ketergantungan terhadap volatilitas harga ayam hidup.
Paulina menambahkan, kontribusi produk konsumen yang diperkirakan mencapai sekitar 17% dari total penjualan Japfa sepanjang 2026 berpeluang tumbuh di atas 20% secara tahunan.
Peningkatan margin usaha dan efisiensi biaya input
Di sisi lain, Nafan Aji Gusta Senior Market Analyst di Mirae Asset Sekuritas, mencatat hingga kuartal III-2025, Japfa mencatatkan laba per saham sekitar Rp 101, melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 53.
Perbaikan kinerja ini turut didukung oleh peningkatan margin usaha dan efisiensi biaya input.
Margin Japfa membaik seiring relatif turunnya harga bahan pakan, khususnya bungkil kedelai, sementara harga ayam hidup serta kontribusi produk hilir masih berada pada level yang mendukung kinerja pendapatan dan profitabilitas perseroan.
“Dari sisi valuasi, saham Japfa juga dinilai masih menarik,” ujar Nafan kepada media lokal.