17 Okt 2025

Fast Food masih merugi saat Pioneerindo dan Sarimelati catat untung

Fast Food Indonesia, perusahaan pengelola KFC, masih merugi hingga Rp 138,75 miliar sepanjang semester I 2025.

Persaingan di industri restoran cepat saji kian ketat di tengah lesunya daya beli dan perubahan perilaku konsumen. Kondisi ini berdampak pada kinerja keuangan sejumlah jaringan restoran cepat saji.

KFC, di bawah manajemen Fast Food Indonesia, masih membukukan rugi bersih sepanjang semester I 2025. Namun kompetitornya, Pioneerindo Gourmet International yang mengelola CFC dan Sarimelati Kencana yang mengelola Pizza Hut, sudah meraup untung.

Fast Food rugi Rp 138,75 miliar

Mengutip laporan keuangan Fast Food di Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, perusahaan pengelola KFC ini masih merugi hingga Rp 138,75 miliar sepanjang semester I 2025.

Meski demikian, kerugian yang ditelan Fast Food menyusut dibanding periode yang sama tahun 2024, yakni sebesar Rp 348,83 miliar.

Pendapatan Fast Food tercatat menurun 3,12% menjadi Rp 2,40 triliun di paruh pertama tahun 2025 dari Rp 2,48 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban pokok penjualan Fast Food juga menyusut menjadi Rp 961,44 miliar di semester I 2025, dari Rp 1,05 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Berlanjut setelah iklan.

Alhasil, laba bruto Fast Food naik menjadi Rp 1,44 triliun di semester I 2025, dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 1,42 triliun.

Sementara total aset Fast Food tercatat naik di semester I 2025, yakni sebesar Rp 4,10 triliun dari Rp 3,52 triliun.

Meski demikian, liabilitas atau utang perseroan membengkak di semester I 2025, menjadi sebesar Rp 3,97 triliun dari posisi akhir Desember 2024 sebesar Rp 3,40 triliun.

Kemudian untuk total ekuitas perseroan tercatat di posisi Rp 129 miliar hingga semester I 2025.

Pioneerindo untung Rp 12,61 miliar

Berbeda dengan Fast Food Indonesia, emiten pengelola restoran cepat saji CFC, Pioneerindo membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 12,61 miliar. Laba perseroan tercatat tumbuh dibanding periode yang sama di tahun 2024, yakni sebesar Rp 11,90 miliar.

Pioneerindo membukukan pendapatan sebesar Rp 368,81 miliar sepanjang semester I 2025. Angka tersebut naik sekitar 7,11% dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp 344,34 miliar.

Mayoritas pendapatan Pioneerindo ditopang oleh operasional CFC yakni sebesar Rp 343,08 miliar di semester I 2025. Kemudian Sapo Oriental sebesar Rp 12,59 miliar, Sugakiya Rp 7,46 miliar, dan Cal Donat Rp 5,10 miliar.

Namun begitu, total aset Pioneerindo tercatat menyusut dari Rp 343,30 miliar di akhir Desember 2024 menjadi Rp 340,13 miliar.

Total liabilitas perseroan juga tercatat menyusut dari Rp 175,77 miliar menjadi Rp 161,40 miliar.

Kemudian posisi ekuitas perseroan sebesar Rp 178,72 miliar.

Sarimelati mulai untung

Sarimelati berhasil membalikkan posisi rugi dari Rp 75,11 miliar di semester I 2024 menjadi laba bersih Rp 15,56 miliar di paruh pertama 2025.

Sarimelati berhasil membukukan peningkatan penjualan menjadi sebesar Rp 1,54 triliun di semester I 2025, dari Rp 1,37 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Sarimelati mencatat beban pokok penjualan sebesar Rp 473,68 miliar di semester I 2025. Sementara itu, laba bruto perseroan tercatat meningkat menjadi Rp 1,06 triliun dari Rp 936,60 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

Akan tetapi, total aset emiten Pizza Hut ini tercatat menyusut menjadi Rp 2 triliun dari Rp 2,13 triliun pada akhir Desember 2024.

Adapun total liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp 975,19 miliar dengan ekuitas di posisi Rp 1,03 triliun di semester I 2025.

PDF

Terkait dengan Olahan
TEMUKAN
agriNews Play - Los podcast del sector ganadero en español
agriCalendar - Kalender acara di dunia peternakanagriCalendar
agrinewsCampus - Kursus pelatihan untuk sektor peternakan