


Kementerian Pertanian membidik peluang ekspor daging ayam dan telur ayam ke Arab Saudi dan China dalam upaya memperluas pasar ekspor dan mengurangi kelebihan pasokan di dalam negeri.
Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian, mengatakan Indonesia kini tidak hanya berhasil memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi sudah pada posisi ‘kelebihan pasokan’ untuk komoditas daging ayam dan telur ayam.
Di sisi lain, ia menambahkan, saat ini Indonesia sudah berhasil menembus pasar ekspor di 11 negara.
Sudaryono mengungkapkan bahwa Arab Saudi adalah salah satu pasar ekspor besar yang kini sedang dijajaki. Ini seiring dengan tingginya kebutuhan pangan bagi jemaah haji dan umrah asal Indonesia.
Selain Arab Saudi, pemerintah juga tengah menjajaki untuk pasar China. Menurut Sudaryono, ceker ayam adalah bagian yang paling digemari masyarakat China.
Ia menambahkan bahwa pemerintah selalu membawa misi dagang dalam setiap kunjungan luar negeri.
Peningkatan nilai ekspor produk unggas
Menurut data Kementerian Pertanian pada Maret 2026, Indonesia mengekspor 545 ton produk unggas senilai Rp 18,2 miliar ke negara tujuan mencakup Singapura, Jepang daeksporn Timor Leste. Ekspor ini didominasi telur konsumsi sebanyak 517 ton ( sekitar 8,13 juta butir), sementara sisanya berupa daging ayam dan produk olahan daging ayam yang bernilai tambah.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kinerja ekspor produk unggas menunjukkan tren peningkatan. Di 2024, ekspor produk unggas tercatat sekitar 300 ton dengan nilai sekitar Rp 11 miliar, sementara di 2025 meningkat menjadi sekitar 400 ton dengan nilai Rp 15 miliar.
Peningkatan kinerja ekspor ini ditopang produksi nasional yang kuat. Indonesia mencatat per Maret 2026, produksi daging ayam ras sebesar 4,29 juta ton dengan konsumsi setahun 4,12 juta ton, produksi telur ayam ras sebesar 6,54 juta ton dengan konsumsi setahun 6,47 juta ton.