Pelaku usaha perunggasan nasional menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan ayam ras pedaging (broiler) di pasar.
Komitmen ini disampaikan dalam pertemuan bersama Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional di Kantor Pusat Kementerian Pertanian belum lama ini.
Makmun, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan di Kementerian Pertanian, menyampaikan bahwa pelaku usaha memiliki peran strategis dalam menjaga iklim pasar yang kondusif, khususnya menjelang akhir tahun.
“Kita harus menjaga iklim di pasar agar tetap seimbang. Kami menetapkan harga maksimal karkas di kisaran Rp 37.000 per kg, dan kami minta seluruh outlet memastikan harga ini berlaku secara merata, terutama di Pulau Jawa. Kita ingin menjaga stabilitas ini bersama-sama,” ungkapnya.
Stok ayam nasional aman
Makmun menegaskan bahwa kondisi stok ayam nasional saat ini dalam posisi aman. Menurutnya, kerja sama yang baik antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci dalam menjaga ketersediaan serta keterjangkauan harga bagi masyarakat.
“Stok aman, dan harga maksimal Rp 37.000 per kg untuk karkas. Ini hasil komitmen bersama agar distribusi tetap lancar dan konsumen mendapatkan harga yang wajar,” lanjutnya.
Dukungan para pelaku usaha
Sejalan dengan itu, Dimas Insani, perwakilan dari Japfa Comfeed Indonesia, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar.
“Untuk Japfa, harga jual karkas di outlet kami, terutama di Pulau Jawa, berada pada kisaran Rp 35.000-37.000 per kg. Kami siap berpartisipasi dalam setiap gerakan atau kebijakan pemerintah yang bertujuan menjaga kestabilan harga. Kami percaya intervensi bersama antara pelaku usaha dan pemerintah akan membawa hasil positif bagi industri dan masyarakat,” kata Dimas.
Sementara itu, Rewin Hanrahan, perwakilan dari Malindo Feedmill, turut menegaskan kesiapan perusahaannya dalam mendukung langkah stabilisasi pasar.
“Kami siap mendukung langkah pemerintah, selama kebijakan yang diambil tidak mendorong harga live bird (ayam hidup) turun secara drastis. Prinsipnya, kami ingin menjaga keseimbangan antara kepentingan peternak, pelaku usaha, dan konsumen,” jelas Rewin.
Jusi yang mewakili Charoen Pokphand Indonesia turut menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi geografis dalam penetapan harga.
“Ke depan, mungkin bisa dipertimbangkan penerapan Harga Acuan Penjualan (HAP) secara regional, mengingat adanya perbedaan harga dari tingkat peternak hingga konsumen di berbagai daerah. Namun, tentunya kami mendukung penuh upaya pemerintah menjaga kestabilan pasar, dan jika ada program seperti gerakan pangan murah, kami siap berpartisipasi di seluruh outlet kami,” tutur Jusi.
Para pelaku usaha yang tergabung dalam asosiasi perunggasan menyampaikan bahwa hingga pertengahan Oktober 2025, harga karkas ayam beku di lebih dari 2.000 titik outlet masih stabil di kisaran Rp 35.000-37.000 per kg.
Kondisi ini menunjukkan rantai pasok berjalan baik dan sistem distribusi di tingkat konsumen terjaga efisien.
Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha, diharapkan kestabilan harga serta pasokan daging ayam ras dapat terus terjaga hingga akhir tahun.
Para pelaku usaha juga menyatakan kesiapan mereka untuk terus berkolaborasi dalam mendukung program penguatan ketahanan pangan nasional.