11 Des 2025

CPI dan Japfa diproyeksi akan menutup 2025 dengan pertumbuhan positif

Proyeksi positif ini sejalan dengan momentum pemulihan harga ayam dan disiplin sektor perunggasan dalam menjaga pasokan.

Kinerja fundamental Charoen Pokphand Indonesia (CPI) dan Japfa Comfeed Indonesia diproyeksi tumbuh positif di tahun ini, bahkan akan berlanjut ke tahun depan, menurut Imam Gunadi, Equity Analyst di Indo Premier Sekuritas.

Imam memperkirakan:

  • CPI akan menutup 2025 dengan laba bersih Rp 4,42 triliun.
  • Japfa akan meraup laba bersih di 2025 sebesar Rp 3,23 triliun.

Proyeksi positif ini sejalan dengan momentum pemulihan harga ayam dan disiplin sektor perunggasan dalam menjaga pasokan.

“Perbaikan margin pada kuartal III-2025 menjadi dasar kuat bahwa sektor perunggasan memasuki fase ekspansi siklis setelah tekanan pada 2023-2024, dengan permintaan unggas domestik juga bergerak stabil menuju akhir tahun,” terang Imam.

Proyeksi untuk 2026

Memasuki 2026, Imam memperkirakan:

Sementara untuk Japfa, ia memproyeksikan:

Berlanjut setelah iklan.

“Kesimpulannya, CPI berpotensi menghasilkan pertumbuhan yang lebih agresif, sementara Japfa menawarkan stabilitas pendapatan dengan valuasi yang relatif lebih rendah,” kata Imam.

Performa keuangan per akhir September 2025

Kinerja profit margin yang solid telah ditunjukkan kedua perusahaan unggas terintegrasi tersebut dalam realisasi kinerja sembilan bulan pertama 2025 (Januari-September 2025).

CPI dan Japfa sama-sama mencatat pertumbuhan laba bersih yang jauh melebihi dari kenaikan penjualan mereka.

Per akhir September 2025, laba bersih dan pendapatan Japfa masing-masing naik 15% dan 4,04% secara tahunan. Sementara CPI membukukan kenaikan masing-masing 40,1% dan 1,8% secara tahunan.

Faktor-faktor penguatan sektor perunggasan

Imam menjelaskan, margin sektor perunggasan sepanjang 2025 menguat terutama karena kombinasi pemulihan harga ayam hidup dan DOC serta normalisasi biaya bahan baku pakan.

Selain itu, penurunan harga bungkil kedelai dan disiplin pasokan melalui afkir secara sukarela serta pengetatan impor grand-parent stock (GPS) menciptakan keseimbangan pasokan dan permintaan yang menjaga harga ayam tetap atraktif.

Kombinasi ini yang membuat pertumbuhan laba jauh melampaui kenaikan pendapatan.

“Kondisi margin ini masih berpotensi dipertahankan tahun depan, terutama bila pengendalian pasokan berlanjut dan volatilitas input cost tetap terjaga. Kami menilai keseimbangan pasokan akan kembali mendukung harga ayam hidup setidaknya hingga paruh pertama 2026,” papar Imam.

Walau katalis positif menyertai, ia mewanti-wanti bahwa tantangan tahun depan tetap ada. Faktor ini meliputi:

“Jika salah satu faktor tersebut berubah signifikan, maka ekspansi margin dapat tertahan pada tahun mendatang,” kata Imam.

PDF

Terkait dengan Pasar
TEMUKAN
agriNews Play - Los podcast del sector ganadero en español
agriCalendar - Kalender acara di dunia peternakanagriCalendar
agrinewsCampus - Kursus pelatihan untuk sektor peternakan