H&N Wide banner Universe - Indonesia

07 Jul 2026

MBG: Bukan jumlah makanan yang dibagikan, tapi efektivitas dalam meningkatkan status gizi

Salah satu kelemahan mendasar program MBG adalah sasaran penerima manfaat yang belum diprioritaskan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah dugaan korupsi dalam tata kelola Badan Gizi Nasional (BGN) terungkap.

Di tengah proses pembenahan tata kelola, pemerintah juga mulai melakukan pengarahan ulang program dengan memprioritaskan ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), menyusul berbagai kritik terhadap pelaksanaan MBG yang dinilai belum tepat sasaran.

Prof Sri Raharjo, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian di Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa tujuan MBG sering kali dipersepsikan sama dengan program penurunan stunting, padahal keduanya memiliki fokus yang berbeda.

Menurut Prof Sri, pemerintahan yang lalu sebenarnya telah menjalankan program percepatan penurunan stunting selama sekitar sepuluh tahun terakhir. Karena itu, pengalaman tersebut seharusnya menjadi pembelajaran dalam merancang MBG.

Ia menilai salah satu kelemahan mendasar program ini adalah sasaran penerima manfaat yang belum diprioritaskan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan.

“Kalau tujuannya meningkatkan status gizi, mestinya yang menerima MBG adalah mereka yang memang status gizinya kurang atau berada di marginal,” katanya.

Prof Sri beranggapan, sejak awal pemerintah lebih berorientasi pada target menjangkau sekitar 82 juta penerima manfaat. Akibatnya, berbagai kesiapan pendukung, mulai dari infrastruktur, sumber daya manusia, hingga sistem keamanan pangan, belum sepenuhnya siap ketika program mulai dijalankan.

Berlanjut setelah iklan.

Kondisi ini, menurutnya, terlihat dari munculnya sejumlah kasus keracunan makanan yang baru diikuti dengan pembenahan standar sanitasi dan higienitas.

”Targetnya memang demikian ambisius, tidak memedulikan proses atau kesiapan untuk mendukung penyelenggaraan itu,” ujar Prof Sri.

Selain kesiapan pelaksanaan, ia juga menyoroti besarnya anggaran yang dialokasikan untuk MBG melalui pembentukan BGN. Menurutnya, kebijakan tersebut berdampak pada berkurangnya alokasi anggaran di kementerian maupun pemerintah daerah.

Prof Sri menilai pemerintah seharusnya belajar dari pengalaman program penurunan stunting yang telah berjalan selama bertahun-tahun, alih-alih membangun sistem baru tanpa menjadikan praktik baik sebelumnya sebagai acuan.

“Pembelajaran dari program penurunan stunting seharusnya dijadikan acuan dalam perancangan MBG,” katanya.

Sri menjelaskan jika program penurunan stunting sebelumnya melibatkan berbagai kementerian sesuai tugas dan fungsinya sehingga intervensi dilakukan secara terkoordinasi, mulai dari penyediaan sanitasi, edukasi gizi, hingga bantuan sosial untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi.

“Pendekatan tersebut lebih sistematis dibanding membentuk lembaga baru dengan kebutuhan anggaran yang besar,” imbuhnya.

Menanggapi dugaan korupsi dalam penyelenggaraan MBG, Prof Sri menilai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga desain program yang berpotensi membuka peluang terjadinya penyimpangan.

“Korupsi itu dipengaruhi oleh pelakunya atau orangnya, tapi bisa juga peluang korupsi itu dibuat karena desain dari program ini,” ujarnya.

Prof Sri menilai skema MBG yang melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yayasan, dan mitra pelaksana menciptakan rantai pengelolaan yang panjang sehingga membuka lebih banyak titik yang perlu diawasi.

Menurutnya, semakin banyak perantara yang terlibat, semakin besar peluang munculnya praktik rente apabila pengawasan tidak berjalan optimal.

Karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan mekanisme yang lebih sederhana, misalnya melalui kantin atau dapur sekolah yang telah berjalan sehingga rantai birokrasi dapat dipersingkat dan pengelolaan anggaran menjadi lebih mudah diawasi.

Selain tata kelola, Prof Sri juga menekankan pentingnya evaluasi berbasis data. Apabila tujuan utama MBG adalah meningkatkan status gizi, pemerintah perlu memiliki data awal mengenai kondisi gizi penerima manfaat sebelum program dijalankan agar keberhasilan program bisa dievaluasi setelah berjalan.

Melalui evaluasi tersebut, pemerintah dapat mengetahui daerah yang berhasil maupun yang masih memerlukan perbaikan sehingga penyempurnaan program dilakukan berdasarkan bukti.

Prof Sri berharap evaluasi MBG tidak hanya berfokus pada banyaknya makanan yang dibagikan, tetapi juga pada efektivitas program dalam meningkatkan status gizi masyarakat sesuai tujuan awal program.

PDF

Terkait dengan Olahan
TEMUKAN
agriNews Play - Los podcast del sector ganadero en español
agriCalendar - Kalender acara di dunia peternakanagriCalendar
agrinewsCampus - Kursus pelatihan untuk sektor peternakan