


Serapan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapatkan sorotan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dia menilai serapan anggaran program mercusuar Presiden Prabowo Subianto itu masih sangat rendah.
Purbaya menyebut bahwa pihaknya bakal melakukan pengawasan penyerapan anggaran MBG. Ini menjadi bagian dari strategi tata kelola fiskal guna menggerakkan roda perekonomian, baik melalui entitas swasta maupun pemerintahan.
“Di sisi pemerintah, saya akan pastikan belanja-belanja yang lambat, berjalan dengan lebih baik lagi. Ada yang komplain, MBG penyerapannya rendah. Saya tanya sama teman-teman keuangan, bagaimana pengawasannya? Mereka bilang bagus-bagus saja, tapi ternyata jelek,” kata Purbaya.
Menurutnya, selama ini belum ada tindak lanjut yang signifikan dari Kementerian Keuangan atas permasalahan tersebut.
Karena itu, dia berencana mempertegas transparansi atas penyerapan anggaran program MBG dengan mendorong Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memberikan paparan publik secara berkala.
“Saya bilang nanti sebulan sekali kita akan jumpa pers dengan Kepala BGN. Nanti kalau penyerapannya jelek, dia suruh jelaskan ke publik, saya di sebelahnya,” ujar Purbaya.
Di samping itu, ia juga menegaskan akan menyisir program pemerintah lainnya yang memiliki penyerapan anggaran lambat, sembari mempelajarinya secara detail.
Dia berujar bahwa Kementerian Keuangan dapat membantu penyusunan kebijakan anggaran dan pelaksanaan program kerja dari kementerian/lembaga terkait apabila diperlukan.
“Kami akan kirim orang ke sana supaya jalannya cepat dan kita akan awasi secara berkala. Supaya anggaran yang banyak tadi, kalau lihat [besaran] anggaran sama saja dari tahun ke tahun, tetapi itu tidak ada dampaknya karena penyerapannya tidak diawasi,” tutur Purbaya.
Serapan anggaran MBG
BGN mengungkap anggaran yang terealisasi untuk program MBG baru mencapai Rp 13,2 triliun dari total pagu 2025 sebesar Rp 71 triliun.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengatakan realisasi anggaran MBG yang terserap itu setara dengan 18,6% dari total pagu Rp 71 triliun. Namun, ia menyatakan bahwa serapan anggaran itu telah melampaui dari target Agustus 2025 yang hanya mencapai Rp 9,1 triliun.
“Agustus [2025] kami targetkan Rp 9 triliun terserap, alhamdulillah hari ini kami sudah bisa menyerap Rp 13,2 triliun [secara total]. Artinya, sudah melampaui target,” kata Dadan.
Dalam catatan BGN, Dadan mengungkap sebanyak 22 juta penerima manfaat program MBG dengan 7.453 titik dapur atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) per 8 September 2025.
Dadan menyebut pembentukan dapur SPPG telah melampaui target yang ditetapkan sebanyak 7.000 titik. Adapun pada September 2025, BGN menargetkan akan memiliki 14.000 SPPG dengan menjangkau 42 juta penerima manfaat.
Lebih lanjut, Dadan menjelaskan bahwa jumlah SPPG merupakan hal yang penting. Sebab, penyerapan MBG identik dengan jumlah SPPG yang beroperasi.
Pasalnya, ungkap dia, setiap 1 SPPG yang berjalan, maka dapur tersebut akan menyerap sekitar Rp 1 miliar setiap bulan.
“Setiap 1 SPPG operasional, maka di bulan itu 1 SPPG akan menyerap kurang lebih Rp 1 miliar. Jadi kalau ada 7.000 SPPG itu artinya akan ada Rp 7 triliun yang terserap di bulan itu. Jadi kalau ada 14.000 SPPG, maka akan ada Rp 14 triliun di bulan bersangkutan akan terserap,” terangnya.
Adapun, BGN menargetkan anggaran yang bakal diserap pada September 2025 akan mencapai Rp 19,63 triliun. Namun, Dadan berharap, realisasinya akan melampaui target yang telah ditetapkan BGN.
Pada Oktober 2025, BGN membidik anggaran yang bakal diserap mencapai Rp 37,86 triliun. Pada periode ini, sebanyak 21.000 SPPG akan terbentuk dan menjangkau 63 juta penerima manfaat.
Lalu pada November 2025, anggaran MBG yang bakal diserap adalah Rp 59,55 triliun dengan target 25.000 SPPG aglomerasi dan 6.000 SPPG di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sebanyak 82,9 juta penerima manfaat mendapatkan program ini.
Dan pada Desember 2025, BGN menargetkan penyerapan anggaran MBG dapat mencapai Rp 76,42 triliun.
Tantangan program MBG
Eksekusi program MBG tidak semulus rencana, menurut catatan Bisnis Indonesia.
Pemenuhan janji kampanye pemilihan presiden oleh Prabowo Subianto tersebut dibanjiri kritik, mulai dari alokasi anggaran hingga teknis pelaksanaan di lapangan.
Terkait anggaran, program MBG disebut terlalu banyak mengambil porsi dari sektor pendidikan yakni 44,2% dari total anggaran pendidikan 2026 sebesar Rp 757,8 triliun. Namun, tudingan itu telah dibantah oleh Kementerian Keuangan.
Menurut Kementerian Keuangan, anggaran program MBG mencapai Rp 335 triliun pada 2026, seperti yang tercantum dalam RAPBN 2026. Kendati demikian, alokasi anggaran itu tidak semuanya berasal dari dana pendidikan.
Dengan demikian, program MBG menyedot 29,5% dari total anggaran pendidikan pada 2026, bukan 44,2%. Sementara itu, porsi anggaran MBG lainnya berasal dari anggaran kesehatan sebesar Rp 24,7 triliun.
Selain anggaran, program MBG juga mendapat sorotan negatif usai ada praktik penggelembungan yang dilakukan para mitra hingga kasus keracunan di beberapa tempat.
Presiden Prabowo Subianto mengakui masih banyak masalah manajemen yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaan MBG.
“Begitu banyak masalah manajemen yang harus kita hadapi agar program ini berjalan baik, lalu pembangunan fisik dapur, pengelolaan rantai pasok, serta pelatihan manajer-manajer dan pelaksana-pelaksana,” ungkapnya.
Kendati demikian, Prabowo mengapresiasi BGN serta seluruh jajarannya yang dinilainya telah bekerja dengan baik.
PENULIS

Resistensi antimikroba dalam rantai pangan unggas dan strategi baru untuk pengendalian bakteri
Edgar O. Oviedo-Rondón
Pentingnya pelatihan staf tentang isu kesejahteraan hewan di industri unggas
M. Verónica Jiménez Grez
Pengendalian hama tikus adalah kunci dalam biosekuriti dan keberlanjutan unggas
Edgar O. Oviedo-Rondón
Inisiatif Salmonella di industri unggas AS selama tahun 2024
Bill Potter
Pembersihan dan desinfeksi kandang berdinding terbuka dan produksi broiler pada musim lembab
Mabel Sibonginkosi Ndebele
Kualitas anak ayam – bagian II
H&N Technical Team
Cara memaksimalkan manfaat dari sarang komunitas Van Gent bagian 2 – Manajemen
Winfridus Bakker
Faktor dan strategi yang membantu meningkatkan kenyamanan termal unggas
Humberto Marques Lipori
Solusi potensial untuk sindrom hemoragik hati berlemak pada ayam petelur
Edgar O. Oviedo-Rondón
Newcastle disease: Mengetahui virusnya dengan lebih baik untuk membuat keputusan pengendalian terbaik. Bagian I
Eliana Icochea D’Arrigo
Varian virus Infectious Bursal Disease: Tantangan bagi vaksin komersial?
Arlen P. Gomez Gloria C. Ramirez-Nieto Maria Paula Urian Avila
Sorotan penelitian dari International Poultry Scientific Forum 2025
Edgar O. Oviedo-Rondón
Wawancara dengan Fahad Alfayez
Fahad Alfayez
Asam hipoklorit, era baru dalam pemurnian air!
José Luis Valls García
Mengelola floor egg pada broiler breeder
Cobb Technical Services Team
Rearing: “Awal yang tepat” untuk produksi telur yang unggul
Kali Simioni
Vaccinating for Marek’s? Don’t be Thrown Off by PFU Levels
Isabel M. Gimeno
Praktik biosekuriti untuk melindungi peternakan anda dari avian influenza
Dr. Algis Martínez - DVM -ACPV Diplomate
Mengapa kita harus memisahkan bungkil kedelai berdasarkan asalnya dalam formulasi pakan unggas?
Edgar O. Oviedo-Rondón
Keberlanjutan untuk industri unggas
Edgar O. Oviedo-Rondón Minliang Yang
Teknologi mesin penglihatan untuk memantau kesejahteraan unggas
Lilong Chai
Distribusi ayam yang tidak merata dapat menyebabkan kerugian
Brian Fairchild Michael Czarick
Infeksi Enterococcus mengurangi daya tetas dan meningkatkan kematian dini
Edgar O. Oviedo-Rondón
Mendeteksi broiler pada berbagai usia dengan model deep learning yang canggih
Lilong Chai
Manajemen jantan breeder untuk performa yang lebih baik
Gabriel Novaes - Veterinarian and Animal Reproduction Specialist at Cobb-Vantress Luciano Keske - Veterinarian and Associate Director of Technical Service at Cobb-Vantress for Latin America and Canada
Zoonosis avian influenza
Gary García-Espinosa
Gelombang panas dan pentingnya lingkungan pada ayam petelur
Alessandra Arno Iran José Oliveira da Silva
Tanin terkondensasi dan mikotoksin pada sorgum genotipe cokelat: Tantangan baru yang harus diatasi dalam produksi unggas
Dr. Marta Jaramillo
Manajemen pemberian pakan pada ayam petelur
H&N Technical Department
BioZyme® mengandalkan AO-Biotics® untuk menyelesaikan misinya
Biozyme Technical Team
Keberlanjutan dalam produksi unggas melalui penggunaan feses unggas yang efisien
Zucami Technical Team
Ringkasan pembelajaran dari Pertemuan Kelompok Penelitian Inkubasi & Fertilitas (IFRG) ke-49
Edgar O. Oviedo-Rondón
Unggas itu baik, orang harus mengetahuinya
Nicolò Cinotti
Kualitas anak ayam – Bagian I
H&N Technical Team
Kemajuan dalam strategi vaksin Salmonella unggas: Menyeimbangkan keamanan dan imunogenisitas
Santiago Uribe-Diaz
Bagaimana nutrisi unggas dapat dioptimalkan untuk mencapai profitabilitas dan keberlanjutan?
Edgar O. Oviedo-Rondón
Program pemberian pakan dengan cahaya sinyal untuk flok breeder
Chance Bryant
Dampak stres kronis dan radang usus pada kesehatan dan kinerja unggas komersial: Bagian II
Guillermo Tellez-Isaias
Antioksidan pada pakan layer
Christine Laganá
Alasan mengapa dunia beralih ke sangkar komunitas
Winfridus Bakker
Dari pengolahan ayam pedaging: Persiapan memberi makan bergizi pada dunia!
Eduardo Cervantes López
Bulu, kipas, dan Fahrenheit: Panduan utama untuk kenyamanan anak ayam!
Udaykumar Mudbakhe
Depresi, kecepatan udara dan jalur udara masuk
Brian Fairchild Michael Czarick
AO-Biotics® EQE, postbiotik baru yang menghasilkan keuntungan ekonomi pada ayam petelur
Biozyme Technical Team
Wawancara Evelien Germeraad
Evelien Germeraad
Probiotik, prebiotik, dan zat fitogenik untuk mengoptimalkan kesehatan usus unggas – Bagian 2
Guillermo Tellez-Isaias Hafez M Hafez Juan D. Latorre Sakine Yalçın
Probiotik, prebiotik dan substansi fitogenik untuk mengoptimalkan kesehatan usus unggas – Bagian 1
Guillermo Tellez-Isaias Hafez M Hafez Juan D. Latorre Sakine Yalçın
Vaksinasi in ovo dengan teknologi Embrex® membantu mendukung respons imun yang lebih awal dan lebih kuat pada anak ayam
Zoetis Technical Team
Ukuran telur
H&N Technical Team
Wawancara dengan Brian Fairchild
Brian Fairchild
Kedelai dengan kadar oleat tinggi dan dampaknya terhadap kualitas telur dan daging unggas
Edgar O. Oviedo-Rondón
Metapneumovirus – epidemiologi dan musim
Edgar O. Oviedo-Rondón
Pengendalian serangga dalam produksi unggas
Gracieli Araujo Specialist in Animal Welfare - Cobb LatCan
Dampak stres kronis dan peradangan usus pada kesehatan dan kinerja unggas komersial: Bagian I
Guillermo Tellez-Isaias
Aplikasi saponin dalam produksi unggas
Ken Bafundo
Parameter kualitas kedelai dan bahan baku protein alternatif dalam nutrisi unggas
Güner GÖVENÇ
Patologi sistem imun dalam diagnosis imunosupresi pada unggas
Nestor Ledesma Martínez
Kesejahteraan hewan dan kecerdasan buatan: kombinasi dari perunggasan masa kini atau masa depan?
Dra. Elein Hernández
Memajukan kesehatan unggas: Peranan analisis prediktif dalam pencegahan penyakit
Talha Siddique
Kepatuhan biosekuriti: Keseimbangan antara budaya, kepribadian, pengalaman, edukasi dan teknologi
Edgar O. Oviedo-Rondón