29 Okt 2025

Sreeya menargetkan perbaikan laba di semester II-2025

Ekspektasi Sreeya di semester II adalah bisa menciptakan laba sekitar Rp 24-25 miliar.

Perusahaan unggas terintegrasi Sreeya Sewu Indonesia menargetkan pemulihan kinerja laba bersih pada semester II-2025 setelah sempat mencatat rugi Rp 21 miliar pada semester I.

Natanael Yuyun Suryadi, Chief Financial Officer, mengungkapkan bahwa ekspektasi perusahaan di semester II adalah bisa menciptakan laba sekitar Rp 24-25 miliar, sehingga secara tahunan perusahaan dapat menutup tahun 2025 dengan posisi positif sekitar Rp 3 miliar.

Natanael Yuyun Suryadi

Memasuki kuartal III-2025, Sreeya mencatat kenaikan volume produksi pakan ternak sebesar 11% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontribusi penjualan Sreeya berdasarkan segmen usaha terdiri atas:

Pengembangan di makanan beku

Berlanjut setelah iklan.

Untuk makanan beku, Sreeya memperluas pangsa pasar lewat peluncuran kemasan kecil serta penguatan kategori easy-to-cook (ETC) dan ready-to-eat (RTE) di bawah merek Belfoods, yang mendapat sambutan positif di pasar domestik.

Natanael menyoroti tren pergeseran daya beli masyarakat, di mana segmen produk premium menunjukkan pertumbuhan tertinggi.

“Untuk kategori makanan beku premium seperti Royal, pertumbuhannya justru double digit. Sementara segmen low-end masih stagnan,” katanya.

Target penjualan

Dari sisi penjualan, Sreeya menargetkan pendapatan akhir tahun mencapai Rp 5,5 triliun, tumbuh 3-4% dibandingkan tahun sebelumnya.

“Penjualan kita akan berakhir di sekitar Rp 5,5 triliun. Kuartal ketiga memang menjadi titik balik, dengan volume pakan tumbuh 11%. Semester kedua ini menjadi kunci pemulihan profitabilitas,” terang Natanael.

Progres pabrik baru terhadap kinerja laba

Sreeya kini memperkuat kapasitas produksi untuk makanan beku melalui pabrik baru di Jawa Timur yang mulai beroperasi pada Juni 2025.

Pabrik tersebut memiliki kapasitas terpasang 2.400 ton per bulan.

“Pabrik baru ini lebih efisien secara produksi dan dirancang untuk bisa tumbuh. Dengan fasilitas baru, profitabilitas kami meningkat signifikan karena efisiensi biaya produksi jauh lebih baik,” ungkap Natanael.

Saat ini, pabrik tersebut fokus memproduksi produk sosis dan makanan olahan Belfoods, dengan efisiensi energi dan otomatisasi yang lebih tinggi dibandingkan pabrik lama di Jonggol, Jawa Barat.

“Produksi di pabrik baru ini lebih efisien, sehingga margin laba meningkat. Desainnya memungkinkan penambahan mesin baru tanpa perlu ekspansi besar,” kata Natanael.

Fokus pada penjualan domestik

Natanael mengungkapkan bahwa fokus Sreeya saat ini adalah pada penjualan domestik. Sementara, segmen ekspor ke luar negeri, seperti ke Timor Leste, belum ada permintaan lanjutan.

Untuk ekspansi jangka menengah, ungkap Natanael, Sreeya akan fokus di wilayah Jawa Timur, Kalimantan, dan Bali, sejalan dengan potensi konsumsi ayam dan produk olahannya yang terus meningkat di kawasan timur Indonesia.

“Produk ready-to-eat kami sudah masuk ke jaringan minimarket dan modern trade. Penerimaan pasar sangat baik, dan strategi kami untuk bergerak ke segmen premium menunjukkan hasil yang positif,” terangnya.

PDF

Terkait dengan Olahan
TEMUKAN
agriNews Play - Los podcast del sector ganadero en español
agriCalendar - Kalender acara di dunia peternakanagriCalendar
agrinewsCampus - Kursus pelatihan untuk sektor peternakan