Pemerintah Republik Indonesia membuktikan komitmennya untuk memperkuat stok jagung nasional sekaligus meningkatkan keberpihakan dan kesejahteraan petani jagung Indonesia melalui penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2026, kata Andi Amran Sulaiman, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Inpres Nomor 3 Tahun 2026 adalah tentang pengadaan dan pengelolaan jagung dalam negeri serta penyaluran cadangan jagung pemerintah tahun 2026-2029.
Amran menyebutkan target pengadaan 1 juta ton dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 5.500 per kg dengan kriteria jagung yang telah masuk usia panen dan kadar air 18-20%.
Untuk pengadaan jagung tahun 2027 sampai 2029 ditetapkan berdasarkan rapat koordinasi bidang pangan pada tahun berjalan. Pengadaan jagung dalam negeri yang dimaksud dalam beleid ini ditugaskan kepada Perum Bulog untuk penguatan stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).
Swasembada jagung diyakini terus berlanjut
“Inpres ini menjadi salah satu bukti komitmen Presiden Prabowo dalam melindungi petani jagung Indonesia. Capaian swasembada jagung Indonesia untuk pakan bisa terus berlanjut,” kata Amran.
“Indonesia sudah swasembada jagung untuk pakan. Impor jagung pakan sudah 0%. Ini berita baik bagi kita semua. Ini hasil kolaborasi dari kerja sama, sinergi, dan kolaborasi. Tentu sesuai arahan Presiden Prabowo, capaian ini akan dilanjutkan seterusnya.”
Badan Pusat Statistik (BPS) telah menghitung total produksi jagung pipilan kering kadar air 14% sepanjang 2025 mencapai 16,16 juta ton. Sementara kebutuhan konsumsi nasional pada 2025 berada di angka 15,23 juta ton, sehingga masih ada surplus 0,93 juta ton.
Penyaluran CJP
Inpres Nomor 3 Tahun 2026 juga menetapkan penyaluran CJP dapat dilakukan melalui operasi pasar umum atau pasar khusus pada sasaran tertentu. Namun tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan jagung pakan untuk peternak mandiri dan kebutuhan pasokan jagung bahan baku pakan ternak bagi pabrik pakan ternak.
Dengan itu, stok CJP di Perum Bulog pun terus diperkuat. Melalui penugasan dari Bapanas, sepanjang 2025 pengadaan jagung yang bersumber dari produksi dalam negeri mencapai 101.000 ton.
Untuk penyaluran CJP telah terlaksana melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan sebanyak 51.200 ton ke 3.578 peternak unggas di 17 provinsi. Stok CJP hingga akhir 2025 masih 45.000 ton.
Selanjutnya angka stok CJP di kuartal pertama 2026 telah mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini berkat realisasi pengadaan jagung dalam negeri yang hingga 2 April 2026 telah mencapai 125.200 ton atau mencapai 123,9% dibandingkan realisasi pengadaan 2025. Stok CJP pun saat ini telah berada di angka 168.000 ton.
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menjelaskan program SPHP jagung pakan telah tersedia anggarannya dan siap dilaksanakan.
Total alokasi salur CJP mencapai 242.000 ton untuk membantu peternak unggas dan non-unggas dalam memperoleh jagung pakan berkualitas dengan harga lebih terjangkau.
“Kami harapkan di bulan ini (April) bisa berjalan sehingga dapat menstabilkan harga produk peternak unggas, seperti telur dan daging ayam ras,” ucap Ketut.
Finalisasi data yang dimaksud berupa rincian data peternak unggas dan non-unggas yang akan dijadikan penerima program SPHP jagung pakan tahun 2026.
Sebagaimana pelaksanaan tahun sebelumnya, penerima program SPHP jagung pakan ditentukan melalui verifikasi bersama antara Bapanas dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian.
Adapun program SPHP jagung pakan tahun 2026, anggaran yang telah disiapkan pemerintah sebanyak Rp 678 miliar. Namun, penyaluran SPHP jagung pakan tetap harus memperhatikan daerah yang sedang ada panen raya jagung, sehingga lebih difokuskan pada wilayah yang bukan sentra produksi jagung dan/atau wilayah yang tidak sedang memasuki panen raya.