Indonesia butuh tambahan 700 ribu ton telur ayam untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), ungkap Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman.
Tambahan produksi ini, kata dia, harus segera dipenuhi agar pasokan telur ayam terjaga dan harganya tidak melampaui batas yang telah ditetapkan pemerintah.
Amran lantas mengumpulkan para peternak ayam petelur untuk menggelar rapat koordinasi di Kementerian Pertanian. Para peternak ayam petelur pun merespon cepat tanpa menunggu undangan formal.
Komitmen dari para peternak ayam petelur
Peternak skala besar, menengah, hingga kecil sepakat menambah produksi untuk memenuhi kebutuhan program MBG, kata dia.
Amran menilai komitmen ini merupakan capaian penting karena dilakukan secara sukarela. Para peternak ayam petelur juga sepakat menjaga harga jual telur ayam agar tetap berada di bawah harga acuan penjualan (HAP) Rp 30.000 per kg.
Menurut data resmi pemerintah, produksi telur nasional saat ini sekitar 6,5 juta ton per tahun. Dengan tambahan 700 ribu ton, produksi telur nasional akan naik signifikan. Amran memastikan peningkatan ini dilakukan bertahap dalam waktu 3-5 bulan.
“Para peternak siap mendukung. Saat ditanya apakah peningkatan tersebut memungkinkan, perwakilan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia langsung menjawab: bisa,” tutur Amran.
Ia yakin tambahan produksi telur ayam ini akan berdampak luas pada perekonomian rakyat.
“Petani jagung akan tersenyum. Kemudian peternak akan bahagia dan sejahtera. Konsumen juga senang dan tersenyum. Inilah yang disebut ekonomi Pancasila. Menggerakkan ekonomi rakyat,” kata Amran.
Respon asosiasi
Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso mengonfirmasi kesiapan para peternak di bawah naungan asosiasinya dalam memenuhi permintaan tambahan produksi.
Ia menghitung angka produksi telur ayam nasional bisa naik menjadi sekitar 7 juta ton per tahun. Menurutnya, produksi telur ayam saat ini masih surplus, sehingga pasokan setengah tahun ke depan relatif aman.
Terkait harga, pemerintah sebelumnya mematok di angka Rp 30.000 per kg untuk telur yang ditujukan buat program MBG. Namun Yudianto menyampaikan, pihaknya sepakat menetapkan harga lebih rendah agar program pemerintah ini tidak terbebani.
“Kami hanya membanderol Rp 27.500 per kg [harga di kandang] untuk di Pulau Jawa,” katanya, serta menambahkan bahwa harga di luar Jawa dapat berbeda karena biaya distribusi.
“Kami harapkan semua dapur MBG bisa kontak langsung peternak dan membeli langsung dari kami para peternak,” pungkas Yudianto.