Dua fasilitas produksi Charoen Pokphand Indonesia (CPI) di Sumatera Utara terdampak banjir pada akhir November 2025, berdasarkan rilis resmi perusahaan.
Kedua fasilitas produksi yang terdampak tersebut adalah:
Manajemen perusahaan tidak menjelaskan berapa nilai produksi, kontribusi pendapatan, ataupun estimasi kerugian yang timbul dari gangguan akses selama tiga hari dan kematian ternak tersebut.
Padahal, bagi industri pangan dengan skala produksi besar, gangguan logistik selama beberapa hari biasanya berdampak pada distribusi, kualitas produk, hingga jadwal produksi turunan.
Operasional sudah kembali normal
Meski akses menuju kedua fasilitas produksi tersebut sempat terputus akibat banjir, manajemen CPI menegaskan bahwa tidak ada pemberhentian operasional pada kedua fasilitas itu dan saat ini operasional sudah berjalan normal kembali.
Secara keseluruhan, bencana ini tidak memberikan dampak terhadap aspek keuangan maupun aspek hukum bagi CPI, menurut rilis resmi tersebut.
Terkait kerugian yang timbul, perusahaan memastikan tidak ada potensi kerugian di pabrik pengolahan daging ayam.
Namun, kerugian pada peternakan ayam pembibit sedang diproses, di mana perusahaan tengah mengajukan klaim kepada pihak asuransi dengan nilai sekitar Rp 16 miliar. Langkah ini merupakan bagian dari mitigasi risiko yang diambil perusahaan.
Dalam upaya penanganan dan keberlanjutan operasional, CPI juga mengimplementasikan Keuangan Berkelanjutan sesuai POJK No. 51/POJK.03/2017, dengan fokus menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman serta mitigasi iklim.
Perusahaan memastikan tidak ada informasi atau kejadian penting material lainnya yang dapat memengaruhi kelangsungan hidup perusahaan atau harga saham.