19 Des 2025

Momentum Nataru diprediksi dorong kinerja perusahaan-perusahaan unggas

Momentum Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 berpeluang mendorong kinerja sektor perunggasan pada kuartal IV 2025.

Saham-saham perusahaan unggas seperti Charoen Pokphand Indonesia, Japfa Comfeed Indonesia dan Malindo Feedmill, berpotensi menguat karena momentum Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Menurut para analis pasar modal, kedua momentum tersebut berpeluang mendorong kinerja perusahaan-perusahaan tersebut pada kuartal IV 2025, sekaligus meningkatkan minat pasar terhadap saham sektor perunggasan sebab diiringi oleh permintaan dari masyarakat terhadap daging ayam dan telur.

Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, menilai peningkatan aktivitas konsumsi rumah tangga pada akhir tahun berpeluang mendorong lonjakan permintaan daging ayam dan telur. Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi kinerja perusahaan-perusahaan unggas.

“Dalam konteks ini, sektor perunggasan tergolong non-siklikal defensif, karena permintaannya relatif stabil bahkan cenderung meningkat pada periode musiman seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru), terlepas dari fluktuasi ekonomi makro,” terang Hendra.

Ia melihat momentum Nataru tahun ini hadir ketika fundamental industri perunggasan berada dalam kondisi yang lebih solid. Stabilitas harga pakan, perbaikan manajemen pasokan ayam hidup, serta tren konsumsi domestik yang tetap kuat menjadi faktor pendukung utama.

Konsumsi domestik dan perbaikan kinerja keuangan

Menurut Hendra, ketika konsumsi domestik menguat, perusahaan-perusahaan dengan skala usaha besar dan jaringan distribusi luas memiliki peluang lebih besar untuk mengonversi kenaikan volume penjualan menjadi perbaikan kinerja keuangan. Kondisi ini membuat saham-saham perusahaan unggas kembali dilirik investor menjelang akhir tahun.

Berlanjut setelah iklan.

“Dalam hal ini, Charoen Pokphand Indonesia dan Japfa Comfeed Indonesia menjadi dua perusahaan unggas yang paling menarik dicermati. Kedua saham tersebut memiliki likuiditas perdagangan yang baik, sehingga lebih mudah diakses investor institusi maupun ritel, sekaligus didukung oleh perbaikan fundamental yang berkelanjutan,” paparnya.

Penilaian untuk Charoen, Japfa dan Malindo

Hendra menilai Charoen Pokphand Indonesia diuntungkan oleh model bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir yang memberikan stabilitas margin dan daya tahan kinerja ketika permintaan meningkat. Dengan ekspektasi penjualan yang tetap solid selama periode Nataru 2025/2026, Charoen Pokphand Indonesia dinilai berpeluang mencatatkan kinerja yang lebih stabil.

Sementara itu, Japfa Comfeed Indonesia dinilai memiliki potensi kenaikan yang lebih agresif seiring siklus kenaikan harga ayam. Fokus perusahaan pada pengembangan produk konsumen serta konsistensi dalam efisiensi biaya mulai memberikan dampak positif terhadap struktur laba.

Hendra menganalisa bahwa ketika harga ayam hidup meningkat, Japfa Comfeed Indonesia diperkirakan menjadi salah satu perusahaan yang memperoleh manfaat paling besar karena leverage operasional yang tinggi.

Selain kedua perusahaan unggas tersebut, Malindo Feedmill juga dinilai patut diperhatikan investor. Sebagai emiten yang lebih sensitif terhadap pergerakan siklus harga ayam, perusahaan ini berpotensi mendapatkan dorongan kinerja ketika permintaan meningkat pada momentum Nataru. Meski volatilitasnya relatif lebih tinggi, saham ini dinilai menarik bagi investor berprofil agresif.

“Dengan karakter sektor yang defensif namun tetap memiliki ruang pertumbuhan, saham-saham perusahaan unggas dapat menjadi pilihan strategis untuk memanfaatkan sentimen akhir tahun, khususnya bagi investor yang mencari kombinasi antara stabilitas dan peluang kenaikan harga saham,” kata Hendra.

PDF

Terkait dengan Pasar
TEMUKAN
agriNews Play - Los podcast del sector ganadero en español
agriCalendar - Kalender acara di dunia peternakanagriCalendar
agrinewsCampus - Kursus pelatihan untuk sektor peternakan