Kementerian Pertanian dan asosiasi peternak ayam petelur gerak cepat berkoordinasi untuk menstabilkan harga telur ayam ras nasional yang belakangan ini cenderung meningkat.
Makmun, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan di Kementerian Pertanian, mengungkapkan pemerintah bersama dengan pelaku industri dan asosiasi segera mengambil tindakan untuk menstabilkan harga telur konsumsi.
“Diperlukan tindakan bersama untuk mencegah lonjakan harga. Tindakan ini bertujuan untuk melindungi daya beli masyarakat tanpa merugikan peternak,” ujarnya.
Yudianto Yosgiarso, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), berharap masyarakat bisa memahami dan mencermati mekanisme peternakan ayam petelur.
“Kenaikan harga telur tidak akan terjadi secara mendadak dan tanpa sebab, tetapi sangat kuat ditentukan oleh kondisi pasokan dan permintaan. Namun, kenaikan harga telur saat ini masih di harga acuan pembelian (HAP) pemerintah yaitu Rp 26.000 per kg ditingkat peternak dan kurang dari Rp 30.000 per kg ditingkat konsumen,” terangnya.
Sangat dipengaruhi harga pakan
Yudianto mengatakan harga pakan sangat mempengaruhi, sehingga ia berharap pemerintah untuk mempercepat realisasi jagung SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) agar harga jagung dapat terkendali dan para peternak mampu menahan laju kenaikan harga telur.
Diketahui sekitar 50% pakan ayam petelur berasal dari jagung, yang masih bisa disuplai dari dalam negeri. Namun, harga jagung mengalami kenaikan. Karena itu, para peternak mencari alternatif bahan pakan untuk menjaga kestabilan biaya produksi, salah satunya dengan gandum. Tetapi, ketersediaan gandum juga terbatas karena bergantung pada impor.
Senada, Jenny Soelistiani, Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung, mengatakan bahwa kenaikan harga telur ayam saat ini memang tidak dapat terhindarkan.
“Kenaikan harga telur tersebut disebabkan beberapa faktor, di antaranya karena kenaikan harga pakan ternak yang mengalami kenaikan signifikan dan beberapa bahan baku pakan ternak yang hingga saat ini masih impor. Kami berharap pemerintah bisa menstabilkan harga jagung,” terangnya.
Tidak terkait Program MBG
Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebut jadi penyebab harga telur naik, dibantah oleh peternak.
Mereka mengatakan ketersediaan telur untuk konsumsi masyarakat dan MBG adalah aman dan dapat dipenuhi. Dengan demikian tidak ada kekurangan pasokan karena adanya permintaan dari MBG.
Kesepakatan bersama
Adapun hasil koordinasi tersebut, disepakati serangkaian langkah strategis guna menstabilkan harga. Diantaranya, para pelaku usaha akan menjual telur sesuai HAP untuk telur ayam di tingkat konsumen, yakni Rp 26.500 per kg, agar masyarakat mendapatkan telur dengan harga terjangkau.
“Kita sepakati bersama penjualan harga telur di tingkat konsumen yakni Rp 26.500 per kg, jangan sampai ada di atas harga tersebut,” ujar Makmun.
Pemerintah berupaya untuk memberikan perlindungan yang adil bagi pelaku usaha dan konsumen.
Kolaborasi antar pihak ini diharapkan dapat menstabilkan harga telur, sehingga dapat menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan permintaan, melindungi peternak serta memastikan konsumen mendapatkan harga yang wajar dan pasokan yang stabil.